A Linguistics Student, A Man who Loves Motherland
8359 words
https://jingxing.link

Kripto Kurrensi?

Mungkin masih ada diantara kita yang masih ragu dengan kripto kurrensi (maaf gua pakai transliterasi). Mungkin sekarang anda2 dan saya masih meragukan mata uang model kayak gini.

Tapi, mungkin suatu saat bakal lebih meyakinkan.

Saya ambilkan apa yang terjadi di beberapa platform yang menggunakan kripto kurrensi; Minds.com dan Brave Browser. Selain menggunakan mata uang beneran, mereka juga menggunakan kripto kurrensi.

Mungkin ada yang menganggap kalau kripto kurrensi itu tidak aman atau bagaimana tapi melihat dari yang dipraktekkan dari dua platform tersebut, saya dapat melihat model resiko kerugian-nya sama dengan ketika anda memiliki uang. Tapi bagusnya, mereka lebih transparan dan real-time mengenai berapa nilai kripto kurrensi mereka jika di-uang-kan.

Kita bisa ibaratkan, anda memiliki uang rupiah 15.000 bernilai 1 Dollar tapi di kemudian hari dia bisa 20.000 rupiah bernilai hanya 1 dollar juga. Jadi mirip2 lah dengan kripto kurrensi.

Sayangnya, kripto kurrensi mungkin saja lebih tidak stabil dan bisa jadi jika perusahaannya bangkrut, maka tiba2 nilainya anjlok.

Poin lebih lainnya untuk kripto kurrensi adalah bahwa mata uang ini lebih tidak terikat dengan bank-bank pusat atau perekonomian suatu negara.

Menurut saya, ini adalah hal yang sangat bagus untuk desentralisasi ekonomi.

Jika kita masih saja menggunakan uang konvesional seperti Rupiah, Dollar, dll, kita tentu akan terus terikat dengan mereka yang mengeluarkan mata uang tersebut. Dengan adanya kripto kurrensi, kita bisa untuk lebih tidak terikat atau setidaknya memilih siapa yang kita akan terikat . Meskipun untuk saat ini mungkin masih kurang, tapi ini memungkinkan.

Dengan segala kekurangannya, saya yakin masa depan kripto kurrensi sangat meyakinkan. Mungkin untuk jumlah besar, masyarakat masih meragukan tetapi dengan adanya dua platform tersebut, masyarakat dapat merasakan manfaat mata uang baru ini dalam jumlah yang terjangkau atau bahkan tanpa modal.

Mengapa Bivshiye Begitu Luar Biasa #36

Tidak semua orang tahu tentang Bivshiye (mantan). Hanya segelintir orang di Indonesia yang memiliki kesempatan untuk tahu serial yang terkenal ini. Ya, mungkin memang hanya saya orang yang tertarik dengan serial Rusia. wwkwk.

Serial ini disutradai oleh Ivan Kitaev. Saya pribadi baru mengenal orang ini jadi tidak perlu dibahas.

Hal yang ditonjolkan dari serial ini melalui cover-nya adalah pemeran utamanya Lyubov Aksenova. Lyubov Aksenova adalah aktris muda yang menjadi ikon dari Start.ru.

Aksenova benar-benar mampu memberikan kesan ciri khas karakter unik Yana; seorang anak manja tapi pemberani.

Selain karakter Yana yang unik, Bivshiye mengupas berbagai topik yang sebenarnya biasa dengan sangat baik. Broken Home, cinta segitiga, kehidupan orang kaya, mental, dan lain-lain.

Pada cinta segitiga misalnya, kisah cinta tidak dibuat seperti seorang laki-laki begitu saja meninggalkan istrinya, tapi ini dibuat lebih unik. Seorang laki-laki yang mencintai perempuan lain tetapi juga mencintai istrinya.

Pada intinya, kehebatan karaker Yana dan plot yang unik adalah daya tarik utama dari serial ini.

Sebuah Ide dari Pondok Pesantren #35

Saya akan menceritakan tentang pondok pesantren yang pernah saya bersekolah di sana; yaitu SMPIP Al-Madinah Boyolali dan MA ICBB Bantul. Dua pondok pesantren ini sebenarnya sangat terkenal, namanya sudah tersoar di tingkat nasional.

Hal yang menarik dari dua pondok pesantren ini adalah pemikirannnya sangat luar biasa menurut saya; mereka berusaha untuk menerima semua orang tanpa kecuali. Berbeda dengan pondok atau pun sekolah kebanyakan yang memiliki sistem pendaftaran yang ketat, mereka dikenal sebagai pondok yang “asal menerima”. Seleksi-seleksi yang mereka lakukan sama sekali tidak ketat dan soal-soal pendaftarannya sangat mudah.

Padahal, jika melihat dari para pendiri atau istilahnya founding fathers-nya, dua pondok ini memiliki nama yang bukan main. SMPIP Al-Madinah dan MA ICBB keduanya berada di bawah yayasan yang berisi Ustadz-Ustadz salafy senior yang tidak perlu lagi diragukan kapasitas dan jaringan yang mereka miliki.

Ketika saya masih santri dulu, selalu ada anggapan di kalangan sebagian santri bahwa pondok pesantren sudah seharusnya untuk memberikan seleksi yang lebih ketat dan tidak asal menerima santri. Dengan menerima seorang santri, pondok pesantren memiliki tanggung jawab lebih untuk mengurus. Sehingga pondok pesantren tidak akan salah menerima seorang santri yang tidak cocok untuk sistem yang ada atau dengan kata lain “bandel”. Selain santri “bandel”, hal lain yang menjadi pertimbangan mereka adalah kualitas santri yang sangat jauh di bawah jika dibandingkan dengan pondok-pondok lain. Ketika pondok-pondok saingan (pesaing) memberikan standar kelulusan yang tinggi, dua pondok ini tetap saja memilih untuk memiliki standar yang biasa-biasa saja.

Kesimpulannya, “bandel” dan kualitas santri adalah kelemahan dari pondok pesantren.

Saya yang dari awal memang sangat setuju dengan pendapat bahwa pondok pesantren sudah sebaiknya tidak menghalangi siapa pun untuk belajar, saya melihat dua alasan “bandel” dan “kualitas” adalah alasan yang kurang tepat.

Sistem pendidikan di pondok pesantren sudah sebaiknya dirancang sedemikian rupa supaya semua orang mampu untuk belajar bukan untuk kalangan-kalangan tertentu. Ilmu agama adalah hak semua orang untuk tahu. Dengan mengadakan seleksi, kita tentu secara langsung mengurangi kesempatan seseorang yang ingin untuk belajar.

Entah anda adalah orang yang “bandel” atau pun tidak, anda tetap memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan agama. Dengan pondok pesantren yang menerima santri baru siapa pun dia, sebuah pondok pesantren telah melakukan tugasnya untuk menyebarkan dakwah para Nabi dan Rasul.

Untuk permasalahan kualitas atau standar kelulusan, mungkin pondok tampak kalah dengan pesaingnya tapi kita tidak hanya melihat dari kualitas yang terlihat. Bisa jadi seseorang dengan kualitas hafalan al-Qur’an lebih rendah, memiliki akhlak yang jauh lebih tinggi. Ada juga mungkin santri yang memang memiliki cita-cita untuk menjadi ahli di bidang lain dari apa yang ada menjadi standar kelulusan. Kualitas atau pun standar kelulusan yang ada bukan lah satu-satunya mengukur kehebatan seorang santri.

Saya teringat dua ucapan dari dua Ustadz. Pertama adalah Ustadz Abu Qotadah dari Ihya As-Sunnah Tasikmalaya. Dia mengatakan jika semua orang baik2 saja yang diterima di pondok pesantren, orang-orang yang nakal mau diterima di mana. Kedua adalah Ustadz Mustamin dari As-Sunnah Makassar. Dia mengatakan bahwa tidak semua santri akan menjadi orang yang duduk memberikan fatwa tetapi ada yang memiliki profesi lain.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa sebuah sistem pendidikan sebaiknya memiliki dua hal: menerima siapa pun dan memperbaiki standar kelulusan dan kualitas untuk lebih ramah. Mungkin pada praktiknya, hal ini tidak sepenuhnya terjadi tetapi setidaknya itu adalah cita-cita dan asas untuk bertindak.

Mengapa Saya Tertarik dengan Minds #34 (kelewatan)

Saya kelewatan, tapi sebenarnya saya masih menulis hanya saja belum saya publikasikan, saya

Mengapa Saya Tertarik dengan Minds

Saya sebenarnya sudah mendaftar Minds pada akhir tahun 2020. Saat itu Saya menemukan tulisan di Listed.to tentang alternatif media sosial yang lebih ramah terhadap privasi. Dia memberikan beberapa pilihan dan salah satunya adalah Minds.

Saya pun mendaftar ke Minds dan ketika itu saya mengira bahwa platform ini adalah biasa-biasa saja. Banyak sosial media lain yang memang berusaha untuk membuat alternatif tetapi hanya lewat saja. Mereka ada, orang mendaftar, dan lalu meninggalkannya begitu saja. Atau dengan kata lain, mereka hanyalah sensasi sesaat. Saya pun hanya sekedar mendaftar dan merasakan sesaat saja lalu melupakannya.

Beberapa hari yang lalu (17 Januari 2020), saya menemukan sebuah berita di RT, sebuah situs berita yang sangat kritis terhadap negara-negara Barat tapi sangat pro-Rusia, tentang Minds yang mendapatkan peringatan dari Google. Sangat mengherankan, mengapa RT berhasil meliput berita seperti ini. Seharusnya, media-media Barat lebih layak untuk mengangkat isu seperti ini.

Saya sebenarnya tidak terlalu memikirkan masalah Twitter yang memblokir Trump tetapi saat itu saya melihat masalah tentang Minds. Saat itu, saya hanya membaca beritanya secara sekilas kemudian saya teringat bahwa saya masih masih memiliki Minds terinstall di HP saya.

Saya pun membukanya dan saya pun melihat ternyata media sosial ini memang memiliki banyak pengguna yang aktif. Ketika melihat orang-orang di sana berbicara berkenaan dengan #censorship dan #exodus, saya pun mulai tertarik dengan platform ini. Ternyata memang ada orang yang memang aktif di Minds. Saya pun mulai memakainya sebagai salah satu media sosial utama saya.

Anda dapat bergabung dengan Minds

Merasakan Patriotisme Rusia #33

Saya termasuk orang yang sangat tertarik dengan hal yang berkaitan dengan Rusia. Negara ini merupakan negara yang sangat besar dan luas. Tidak hanya berkaitan dengan wilayahnya tetapi pada kebudayaannya.

Salah satu hal yang menarik adalah tentang Cinta Tanah Air di Rusia. Sebenarnya tidak hanya di Rusia tetapi negara-negara di Eropa Timur dan Asia Tengah, mereka memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi.

Saya akhirnya menemukan sebuah lagu yang dapat menjelaskan betapa besarnya rasa patriot itu. Mungkin kita tahu lagu kebangsaan Uni Soviet dan Rusia adalah gambaran luar biasa tentang patriotisme di sana tapi lagu ini memiliki pendekatan berbeda. Lagu kebangsaan itu bisa jadi memiliki unsur-unsur politik dan lain-lain dengan kata lain tidak murni sebuah karya seni curahan hati. Karena itu lah, kita perlu untuk mencari hal yang lebih dari sekedar lagu kebangsaan; lagu ini.

Lagu ini adalah Rodina (Tanah Air) dimiliki oleh Sergey Trofimov tetapi telah di-cover oleh beberapa orang. Salah satu dari mereka adalah Viktorya Cherentsova. Dia adalah salah satu mantan pemain Voice of Rusia.

Lagu ini menggambarkan bagaimana rasa cinta itu begitu dalam dan terkenang dalam hati penyanyi. Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana rasanya, anda dapat merasakannya sendiri dengan menonton video dengan subtitle ini.

Pikiran Bahasa Inggris Mulai Pulih #32

Saya baru saja menyelesaikan tulisan saya mengenai Navalny. Anda bisa cek di https://jingxink.link.

Kemampuan bahasa Inggris saya mulai kembali pulih setelah saya menulis status menggunakan bahasa Inggris.

Saya kita ada hubungan erat antara pikiran dengan bahasa. Pikiran mempengaruhi bahasa.

Saya memang lebih condong kepada teori relativisme bahasa meskipun yang versi ekstrimnya tentu saja tidak dapat diterima.

Saya rasa saya perlu libur dulu untuk menulis hari ini. Begini saja tulisan saya.

Bahasa Asing Saling Mengganggu #30

Pikiran saya sedang kacau dan ini sepertinya diakibatkan karena bahasa-bahasa yang saya pakai sehari-hari.

Saya menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia untuk berkomunikasi di dunia nyata. Saya memakai bahasa Inggris dan Rusia untuk melihat konten-konten di dunia maya. Sementara itu, saya memakai bahasa Arab ketika sedang beribadah.

Mungkin pada sebagian hal tidak terlalu bermasalah tapi yang paling tampak bermasalah adalah bahasa Inggris dan bahasa Rusia saya. Dua bahasa ini bukan lah bahasa yang biasanya saya pakai dan sekaligus belum saya kuasai sempurna sehingga jika ada permasalahan akan sangat terasa.

Saya sedang merasakan bagaimana kemampuan bahasa Inggris saya berkurang sejak saya semakin banyak menelan konten-konten berbahasa Rusia. Kemampuan menulis dalam bahasa Inggris saya mulai menumpul. Selain itu, ungkapan2 bahasa Inggris mulai pergi di kepala saya dan berganti dengan ungkapan-ungkapan bahasa Rusia.

Proyek tuliasn saya tentang Navalny sudah lebih dari dua pekan dan belum kelar. Saya sudah memiliki ide di kepala tapi kenapa ketika menuliskan dalam bahasa Inggris, otak saya tidak se-encer dulu.

Pada akhirnya, saya menikmati saja apa yang terjadi.

Kesan Episode Pertama ALZHIR #29

Baru saja saya menyelesaikan episode pertama dari drama serial Rusia ALZHIR.

Kesan saya, drama ini sangat menarik dari segi tokoh, plot, dan materi yang diangkat.

Kisahnya mengenai dua orang perempuan yang terpaksa menjadi tahanan kerja di era Stalin. Satu berasal dari seorang perempuan yang memiliki keluarga bahagia. Dia dan suaminya dikirim ke tahanan kerja. Mereka berdua terpisah karena tahanan pria dan wanita dibedakan. Yang satu lainnya adalah perempuan juga tetapi seorang perempuan yang memiliki karir sukses sebagai seorang penyanyi.

Selain fokus pada dua tokoh tersebut, tampak juga bahwa drama ini juga memberikan sorotan kepada karakter-karakter wanita lainnya. Seperti perempuan Kazakhstan yang secara tidak sengaja tapi dipaksa untuk menjadi tahanan padahal tidak memiliki kesalahan apa pun. Perempuan ini tidak dapat berbahasa Rusia dan seorang Ibu yang baru saja memiliki anak bayi. Dalam episode ini, ditampakkan berbagai variasi karakter perempuan seperti mereka yang memiliki maskulinitas tinggi sampai yang memang sangat feminin.

Untuk materi yang diangkat tentu saja jauh lebih menarik lagi, kisah tahanan gulag yang begitu fenomenal diramu dengan ke-perempuan-an adalah kombinasi yang luar biasa. Pada epsidoe pertama ini, diangkat pembahasa bagaimana peran perempuan dari berbagai macamnya tetapi tidak serta-merta menggunakan cara pandang Barat. Sebuah materi yang unik dan sangat berbobot.

YouTuber Belum Tentu Ahli #28

Saya pernah mencoba memperhatikan beberapa YouTuber untuk permasalahan politik. Pembahasan mereka tampaknya memang menarik tapi ada hal yang sebenarnya perlu untuk diperhatikan. Analisis mereka terlalu pribadi atau istilahnya personal. Mereka bahkan menampakkan opini mereka seolah-olah itu adalah sebuah hasil analisis yang seperti analisis-analisis profesional.

Ketika pembahas politik, kita sangat perlu untuk berhati-hati. Politik bukan lah sebuah pembicaraan yang ringan. Karena itu lah, perlu diadakan sebuah perbedaan antara analisis yang benar-benar jurnalis dan yang bersifat opini pribadi.

Permasalahan YouTube adalah YouTube memperlihatkan channel para YouTuber tidak berdasarkan pada keahlian profesional-nya. Sudah sebaiknya, YouTube membuat perbedaan antara sebuah vlog biasa atau sebuah karya profesional pada bidangnya.

Kecanggihan Teknologi Mengarah pada Perbudakan

Mungkin pikiran saya yang satu ini terlalu ekstrim. Teknologi sebenarnya bukan lah hal yang baru. Sendok, piring, bahkan baju yang kita pakai sehari-hari merupakan teknologi. Namun, sebagian teknologi sekarang berbeda dengan teknologi-teknologi barusan.

Kecanggihan teknologi data sekarang ini mampu membuat sebuah perusahaan mengetahui apa yang seseorang inginkan. Mereka mampu mengendalikan apa yang orang inginkan dan lakukan.

Kita bisa melihat fenomena kecanggihan teknologi yang mampu menyebabkan perbudakan. Kolonialisme misalkan. Dengan kemajuan peradaban pihak kolonial, mereka mampu memperbudak wilayah-wilayah lain yang tampaknya memiliki peradaban "lebih rendah".

Akan kah kecanggihan teknologi sekarang ini akan membawa hal seperti yang pernah terjadi?

Perbudakan Bisa Jadi Tidak Seburuk yang Kita Bayangkan #26

Kita hidup di masa dimana perbudakan telah dihapuskan atau mungkin dengan kata lain telah tidak dilegalkan. Kita juga dari kecil sudah terdidik untuk menganggap bahwa perbudakan adalah hal yang buruk. Perbudakan itu membuat melanggar hak asasi manusia, kurang lebih seperti itu bunyinya.

Tapi, coba kita tengok lebih mendalam tentang perbudakan. Apakah semua budak itu merasa tersiksa, atau mungkin saja mereka merasa bahagia dengan adanya orang yang menjamin kehidupannya mulai dari makan sampai tidur.

Kita melihat misalkan pidato Malcolm X mengenai Budak Rumah dan Budak Ladang. Budak rumah sangat mencintai tuannya sementara budak ladang sangat membenci. Budak Rumah mendapatkan makanan dan pakaian yang baik sementara Budak Ladang sebaliknya. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya masih ada opini bahwa perbudakan itu tidak buruk pada kondisi tertentu.

Dalam novel Roots, Alex Haley memberikan kisah tentang budak di suku pedalaman Afrika. Dia menjelaskan mengenai bagaimana seorang menjadi budak. Diantaranya adalah, seseorang datang ke kota lain dan meminta seseorang untuk menjadikannya budak dengan syarat mendapatkan makan, tempat tinggal, dan lain-lain.

Ya itu hanya novel fiksi, cuma hal ini bisa saja terjadi atau pun setidaknya dapat dijadikan opini.

Dan, saya merasa bahwa suatu hari akan masa dimana perbudakan versi lain akan ada lagi. Versi ini tentu saja dengan adanya layanan-layanan yang Freemium.

Saya akan menjelaskan tentang fenomena ini untuk besok.

Maaf Saya Sedang Tidak Bisa Tambah Ide #25

Akhir-akhir ini, pikiran saya sedang tidak bisa tenang. Memang banyak hal-hal yang masuk ke kepala saya namun hal ini tidak menambah gagasan yang bisa ditulis. Gagasan-gagasannya hanya berupa percikan-percikan ide yang masih butuh proses untuk menghasilkan sebuah kematangan.

Karena pikiran saya sedang terganggu, percikan-percikan tersebut belum dapat saya tuliskan sehingga saya perlu beristirahat.

Ini adalah hari Ahad dan saya kira ini adalah hari libur jadi saya pribadi memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.

Sampai jumpa besok dengan ide saya yang lain.

Telegram Saja #24

Sudah saatnya kita untuk mulai mencoba beralih dari WhatsApp ke Telegram.

Media sosial (medsos) seperti WhatsApp memiliki peranan yang terlalu intim untuk diperjualbelikan berbeda dengan medsos seperti Facebook, VK, atau pun Instagram.

Jika kita pakai medsos-medsos tersebut, kita masih menggunakannya sebatas pada bahwa itu adalah medsos berbeda dengan WhatsApp. Kita memakai WhatsApp sebagai salah satu dari alat komunikasi utama kita. Ibarat WhatsApp sudah menjadi bagian dari mata, mulut, dan telinga kita.

Karena itu lah, privasi penggunaan WhatsApp sudah tentu harus lebih diperhatikan daripada penggunaan medsos-medsos lain.

Tulisan ini ditulis berkenaan dengan kabar yang sedang cukup trend; yaitu kebijakan baru WhatsApp dan komentar Durov di channel Telegram-nya.

Menghormati Hari Libur

Mungkin kita menganggap bahwa dengan terus bekerja dan bekerja tanpa henti, kita akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Dengan terus bekerja, kita dapat terus berkembang dan terus menghasilkan. Berbeda dengan mereka yang banyak istirahat, mereka akan tampak lebih lambat.

Mungkin ada benarnya, tapi tidak seperti itu. Dengan terus bekerja, kita memang akan menghasilkan tetapi tentu saja kita bukan seperti mesin. Kita memiliki rasa lelah, kebutuhan untuk mengistirahatkan badan, dan lain-lain. Kita hendaknya tidak terlalu ekstrim untuk terus bekerja dan bekerja.

Begitu juga dengan menyikapi liburan. Mungkin bagi sebagian orang, mengisi liburan dengan bekerja akan dapat menghasilkan uang lebih namun hal seperti ini tidak berlaku untuk semua orang. Ada orang yang membutuhkan istirahat.

Pada intinya, kita perlu untuk memahami diri kita mengenai porsi kerja kita seberapa dan seberapa libur yang diperlukan.

Jangan Terlalu Individualis #22

Kita tidak hanya harus berani dan memiliki pendirian tetapi juga harus memiliki hubungan dengan masyarakat atau dengan kata lain, kita terkadang harus rela untuk tersisihkan demi kepentingan orang banyak.

Terkadang kita melihat orang diberikan motivasi untuk terus menjadi dirinya sendiri. Seolah-olah diri sendiri adalah segalanya. Kita lupa bahwa diri kita ini adalah sebuah bagian dari masyarakat.

Kita juga harus berusaha untuk mengenal masyarakat. Kita harus mengenal bahwa dunia tidak hanya tentang kita memiliki hak-hak tetapi juga hak-hak orang lain.