Tuesday, May 26, 2026 at 5:40 PM
May 26, 2026•531 words
Matahari tepat di atas kepala. Panasnya bukan lagi sekadar panas—ia seperti sedang menguji kesabaran orang-orang yang berdiri di bawahnya.
Aku duduk di motor sejak tadi, memandang truk gas elpiji yang belum juga mulai melayani antrean. Keringat terasa lengket di leher. Helm kugantungkan di spion, lalu aku menarik napas panjang.
“Sabar,” kataku pada diri sendiri.
Sabar.
Lama memang.
Aku bahkan tidak tahu sampai jam berapa harus berdiri di sini. Tapi entah kenapa, siang itu aku merasa hidup sedang berbicara padaku dengan cara yang aneh.
Kalau memang beginilah hidup mengajariku, ya sudah.
Gas saja.
Tabrak semua takut.
Terabas.
.
.
.
Aku juga manusia biasa. Capek ya istirahat. Sedih ya menangis. Tapi kalau hidup membentuk mental lewat keadaan seperti ini, mungkin aku memang harus belajar kuat.
Yang penting aku tidak kehilangan iman.
Yang penting aku masih ingat Tuhan.
Masih ingat Allah.
Aku tersenyum kecil sendiri. Kadang lucu juga bagaimana seseorang bisa mendapat pelajaran hidup hanya karena mengantre gas elpiji.
Truk akhirnya datang.
Orang-orang yang tadi lesu mulai bergerak mendekat. Aku ikut berdiri, berharap antrean segera berjalan. Namun ternyata kami masih harus menunggu lagi sekitar dua puluh menit. Aku memijat tengkukku yang pegal sambil melihat sekeliling.
Lalu mataku menangkap sesuatu yang membuat emosiku naik perlahan.
Di dekat tumpukan tabung gas ukuran dua belas kilo, ada dua bapak sedang merokok.
Salah satunya memegang rokok di tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk memainkan ponsel. Tepat di belakang mereka, tulisan besar terpampang jelas:
DILARANG MEROKOK
DILARANG MAIN HP
DILARANG MEMBUAT PERCIKAN API
Aku menatap mereka lama.
Pikiranku penuh.
Apa mereka buta huruf?
Atau memang tidak peduli?
Aku ingin marah. Sangat ingin. Namun kutahan. Dadaku terasa panas, bercampur kesal dan lelah. Belum lagi melihat beberapa karyawan bercanda sambil saling menggoda di dekat tangga truk, seolah semua ini tidak berbahaya.
Cih.
Aku membuang napas kasar.
Kadang yang melelahkan bukan hidupnya, tapi cara manusia mempermainkan keselamatan.
Aku kembali berdiri di antrean. Pelan-pelan aku menarik diriku sendiri agar tenang.
Berani.
Itu satu-satunya kata yang muncul di kepalaku.
Kalau hidup mengajariku keras, maka aku harus lebih keras dari rasa takutku sendiri.
Antrean mulai bergerak.
Satu orang maju.
Lalu satu lagi.
Aku menghitung dalam hati sambil menggenggam uang erat-erat. Panas siang terasa makin menyengat, tapi kali ini aku tidak terlalu peduli.
Aku urutan ketiga.
Tinggal sedikit lagi.
Namun saat aku hendak maju, seorang karyawan elpiji menahan antrean sambil berkata, “Dua orang ya.”
Aku terdiam sesaat..
Jadi hanya dua orang yang bisa masuk ke antrean berikutnya.
Aku menghela napas pelan. Rasanya ingin mengeluh, tapi tenagaku sudah habis untuk marah. Aku hanya menunggu lagi sambil menatap tabung-tabung gas yang diturunkan satu per satu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya giliranku tiba.
Tabung gas itu berpindah ke tanganku dengan bunyi denting pelan. Sederhana sekali. Tapi entah kenapa rasanya seperti memenangkan sesuatu yang besar.
Aku langsung berjalan menuju motorku yang terparkir agak di depan truk.
Setelah menaruh gas dengan hati-hati, aku duduk di motor sambil mengembuskan napas lega.
"Ah, akhirnya dapat... "
Angin siang menyentuh wajahku pelan. Untuk pertama kalinya sejak tadi, dadaku terasa ringan.
.
Lucu ya.
Terkadang hidup tidak memberimu pelajaran lewat hal-hal besar.
Kadang, hidup hanya menyuruhmu berdiri di bawah matahari, mengantre gas elpiji, menahan emosi, lalu pulang dengan mental yang sedikit lebih kuat dari sebelumnya.