14 Maret 2021

Gue punya satu rahasia kecil yang memalukan. Tujuan gue membagikan ini ke internet adalah gue mau ngasih tau kalau misalnya ternyata lo juga melakukan hal serupa, setidaknya lo tidak merasa sendirian.

Umur gue sekarang 23, dan beberapa bulan lagi akan menginjak 24. Gue tinggal relatif jauh dari orang tua meskipun hanya terpisah 2 provinsi. Dan saat ini gue tinggal di kos-kosan yang berada di kecamatan Coblong. Kosan ini tidak luas dan tidak sempit juga, mungkin berukuran 3x3. Suasana di kosan ini lumayan ramai tanpa mengenal siang dan malam, dan beruntungnya keramaian tersebut tidak selalu setiap hari sehingga para budak korporat dapat tidur dengan sedikit lebih tenang untuk menghadapi hari esok sebagai robot.

Ketika hendak pergi tidur, gue selalu mematikan lampu kamar karena sudah kebiasaan.

Dan disini bagian utama dari ceritanya.

Tidak jarang gue menatap langit-langit kamar di ruangan yang gelap ini dibarengi dengan memikirkan hal-hal yang kebanyakan mengarah ke sesuatu yang negatif. Pikiran-pikiran tersebut antara lain seperti merasa bahwa hidup & diri gue tidak berguna, mengungkit kesalahan-kesalahan gue yang sangat membekas yang pernah gue alami, mempertanyakan bahwa di umur segini & di kondisi seperti ini seharusnya posisi gue ada dimana, menyadari bahwa gue hanyalah orang biasa dari keluarga biasa yang tololnya memiliki mimpi yang kurang biasa, dan yang terakhir ini bagian ultimatumnya sekaligus yang gue yakini menjadi akarnya: gue merasa kesepian, sangat kesepian.

Meskipun mungkin gue memiliki teman yang selalu ada untuk gue; memiliki orang yang mungkin menyayangi gue, dan juga memiliki tuhan yang maha segalanya, nyatanya gue tiduran di kamar gelap ini, memandangi langit-langit kamar, memikirkan hal-hal yang mungkin seharusnya tidak dipikirkan, sendirian.

Kebanyakan orang sekilas melihat gue adalah orang yang kuat; sabar, tangguh, mandiri, tidak pedulian, egois, dsb yang mungkin penilaian mereka dapat dianggap benar. Namun bila ingin melihat diri gue secara keseluruhan, ada satu sisi yang mana gue sebenarnya orangnya rapuh. Meskipun hanya satu sisi, namun tetap itu adalah bagian dari diri gue secara keseluruhan.

Dan apa bagian yang memalukannya? Menangis.

Akhir dari momen-momen itu adalah menangis karena gue rasa gue tidak memiliki pilihan lain selain menangis. Setelah menangis, gue merasa diri gue sedikit lebih baik; sedikit lebih tenang, dan sedikit lebih terkendali. Entahlah, mungkin gue terlalu keras terhadap diri gue sehingga ketika momen itu datang menjadi, seperti, ketika kita sudah merasa berat karena memegang sesuatu terlalu lama, kita biasanya menaruh sebentar sesuatu tersebut terlebih dahulu untuk mengistirahatkan tangan dan otot, kan? Menangis disini menurut gue seperti mengistirahatkan tangan dan otot itu.

Namun tidak hanya sampai disitu, justru ketika menangis ini yang paling terasa beratnya. Hanya gue yang tahu (oke pastinya tuhan juga) kalau gue saat itu menangis dan hanya diri gue yang mendengarkan isakan tangis itu serta merasakan jatuhnya air ke pipi. Tidak ada yang menenangkan, tidak ada tangan yang bisa digenggam, bahu yang bisa disandar, dan badan yang bisa dipeluk. Pada akhirnya semua masalah yang gue miliki, gue sendiri yang menyelesaikan. Ketika gue sedang jatuh, gue sendiri yang harus membangunkan. Dan ketika diri gue sedang hilang arah, ya, gue sendiri yang menenangkan.

Lalu apa yang membuat tangisan gue berhenti? Energi. Ketika gue sudah merasa capek menangis, ketika mata gue sudah tidak mengeluarkan air lagi, ketika air yang ada di pipi gue sudah kering, dan ketika sudah tidak bisa mengeluarkan isakan, yang biasanya diakhiri dengan terlelap.

Sebelumnya hanya satu orang yang mengetahui rahasia memalukan gue ini, dan sekarang harusnya sudah banyak karena gue membagikannya ke internet, dan tolong jangan dibagikan ulang ke platform publik lainnya. Biarkan rahasia memalukan ini tetap berada di platform ini.

Sejujurnya gue tidak ingin membagikan ini karena gue tidak ingin orang lain mengetahuinya, tapi gue merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita; berkeluh-kesah, membagikan kabar baik dan buruk, menangis dan tertawa, dsb yang mana yang dilakukan bersama. Dan gue sudah tidak tahan untuk tidak menceritakannya, karena dengan begitu gue merasa bahwa ada yang mendengarkan & peduli dengan gue, sekalipun itu hanyalah sebatas asumsi gue semata.

Tidak ada yang bilang bahwa hidup sendirian itu mudah, apalagi menyenangkan. Sebanyak apapun barang yang dimiliki, uang yang dikumpulkan dan perangkat yang digunakan yang “sepertinya” memberikan kebahagiaan & dapat membuat merasa tidak kesepian, sebenarnya yang dibutuhkan hanyalah satu orang yang cinta, sayang, dan peduli dengan kita karena pada akhirnya secinta apapun kita dengan barang; uang dan perangkat, sayangnya mereka tidak akan pernah mencintai balik serta perasaan bahagia & merasa tidak kesepian tersebut pada dasarnya diciptakan oleh kita sendiri sebagai penghibur diri.

Lo mungkin berpikir bahwa gue orang yang lemah; yang haus kasih sayang, yang tidak bisa hidup sendiri, dsb. Namun coba pikirkan siapa di dunia yang tidak memiliki kelemahan, tidak membutuhkan kasing sayang, dan yang ingin mati sendiri? Anyway, inilah salah satu bagian yang rentan dari diri gue. Gue tidak ingin dikenal ataupun dicintai karena “idea of someone” yang dimiliki orang lain ada pada diri gue karena gue sendiri mengenal/mencintai seseorang adalah karena seseorang tersebut secara keseluruhan, bukan hanya karena hal-hal yang gue impikan ada pada orang tersebut.

Jam sudah menununjukkan 01:01 WIB, dada gue sudah tidak terasa sesak; air di pipi gue sudah mengering, dan mata gue sudah tidak ingin menjatuhkan air lagi.

Mungkin sudah waktunya berhenti menatap langit-langit untuk terlelap?


More from faultable