Merasakan Relativisme Bahasa di Suku Jawa

Suatu pagi saya jalan-jalan bersama dengan nenek saya yang dua generasi di atas saya. Nenek saya sudah pikun dan tentu saja jika berbicara berbeda dengan orang-orang normal. Seringkali mengulang-ulang pembicaraan yang baru saja selesai diutarakan. Selain itu, dia juga hampir tidak memiliki pembicaraan baru atau dengan kata lain, apa yang dia bicarakan adalah hal yang berasal dari sisa ingata lamanya dan kebiasaan yang sudah terulang-ulang yang mudah diingat.

Pagi itu kami berjalan sampai dengan sebuah perempatan, lalu nenek saya menanyakan, "ke Selatan atau Utara?" (dalam bahasa Jawa). Tentu saja saya tidak bisa menjawab dan hanya menunjukkan arah (dengan tangan) ke jalan ke kanan. Kejadian ini cukup membuat saya penasaran.


Seorang pikun tidak menggunakan kanan atau kiri tetapi menggunakan arah mata angin untuk mengutarakan sebuah arah. Saya tidak memiliki sebuah bahasa seperti itu. Saya selalu menggunakan kanan atau kiri dan bukan arah mata angin untuk memberikan arah.

Jika dibandingkan dengan pikiran saya, pikiran nenek saya akan tampak lebih kompleks. Nenek saya harus mengetahui arah mana yang sedang kami tuju untuk menentukan bahwa kanan adalah Selatan dan kiri adalah Utara. Bagaimana nenek saya memiliki bahasa sedemikian rumitnya?

Saya berkhayal bagaimana jika Google Map dibuat oleh dan untuk orang-orang seperti nenek saya. Suaranya tidak akan belok kanan atau kiri tetapi belok Selatan dan Utara.

>) Saya dan nenek saya adalah Suku Jawa tetapi nenek saya generasi tua, kira2 satu generasi dengan BJ Habibie sementara saya.


You'll only receive email when they publish something new.

More from Jing Xing #100Days Start Again