A Linguistics Student, A Man who Loves Motherland
7372 words
https://jingxing.link

Meninggalkan Hidup? #43

Saya menemukan sebuah lirik dalam bahasa Inggris tapi dinyanyikan oleh orang Rusia.

It's time to leave, leave your life

Lirik ini sangat lah menarik, mengapa? Jika kita melihat bagaimana ideologi para native speaker Inggris di Amerika mau pun Inggris, kita tidak akan pernah menemukan ungkapan seperti ini.

Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, ketika pertama kali mendengar lirik ini, saya kira berbunyi It's time to live, live your life, ternyata adalah salah. Ideologi Inggris mau pun Amerika memang sangat mengagungkan yang namanya "diri sendiri" tetapi karena ini adalah lirik yang ditulis bukan orang Inggris, maka perkiraan saya salah.

Lirik ini diambil dari lagu No Need to Wait yang merupakan soundtrack dari serial Mazhor 2. Dinyanyikan oleh Vika Cherentsova. Saya masih ragu apakah orang ini adalah Viktoriya Chrentsova salah satu peserta Voice of Rusia atau bukan.

Navalny? #42

Sekarang lagi heboh-hebohnya di Rusia tentang Alexey Navalny. Dia adalah seorang oposisi yang anti-Putin. Setelah sembuh dari diracun dia kembali Rusia dan tentu saja dia ditangkap oleh pihak polisi. Pada tanggal 24 Januari, diadakan demo untuk membebaskan Navalny di Rusia.

Sebagai soerang pengamat, saya tetap berusaha untuk sedemikian rupa tidak memihak kepada pihak pemerintah mau pun pihak Navalny. Media-media Barat sudah tentu memihak pada Navalny. Untuk media di Rusia, media seperti Ekha Moskow tampa

Hal yang ingin saya katakan adalah jangan sampai orang-orang terlalu meninggikan Navalny. Setiap orang harus berusaha untuk tidak terlalu mengidolakan seseorang. Kita harus memiliki sebuah pandangan.

Terlebih pada jurnalist, seharusnya mereka tidak serta merta mendukung Navalny tetapi juga berusaha untuk tetap netral.


Rusia dalam sejarahnya memiliki para tokoh-tokoh besar yang mengubah dunia; Lenin dengan runtuhnya Tsar, Stalin dengan kekalahan Nazi, dan Gorbachev dengan bubarnya USSR, dan sekarang bisa jadi Navalny akan menjadi penerus rantai perubahan.

Teringat sebuah lagu dengan judul The Battle Goes On. Lagu ini menggambarkan bahwa revolusi belum lah usai. Para kaum muda harus terus menjalankan estafet perjuangan. Disebutkan A Lenin Takoy Maladoy (dan Lenin Tetap Muda).

terus berapi-api dan tak pernah padam.

Menulis Lebih Sistematis #41 (kelewatan)

Ini adalah ketiga kalinya saya kelewatan menulis.

Saya sekarang menjadi seorang penulis di situs berita pertama saya BeritaBeruang.Monster.

Saya memutuskan untuk membuat sebuah jadwal atau prosedur menulis untuk menghasilkan produk tulisan yang lebih konsisten.

Saya menyebutnya, "Proses 3 Hari". Saya menamai ini karena proses ini memakan waktu tiga hari.

Hari pertama, saya akan mencari materi untuk tulisan saya. Pada langkah ini, syaa tidak sekedar mencari saja, tetapi mencoba melihat materi dengan topik yang sama di situs-situs besar. Jad, selain mencari materi, pada langkah ini saya juga mengukur nilai topik yang akan saya pasang lewat perbandingan.

Hari kedua, saya akan membuat kerangka penulisan. Kerangka jauh lebih penting daripada berita karena kerangka sebenarnya sudah menyangkut berita hanya saja dalam bentuk sangat sederhana tanpa ada penjabaran. Pada tulisan saya, saya tidak akan menyembunyikan pola yang saya buat atau dengan kata lain, pembaca akan menyadari pola tulisan saya.

Hari Ketiga, saya baru akan melengkapi tulisan saya. Menyempurnakan kerangka dengan rincian-rincian yang menarik. Selain itu, saya juga akan membaca ulang berita saya untuk memastikan tulisan saya bagus.

Saya akan melihat apakah metode saya akan efektif atau tidak.

Puisi: Bersama Awan #40

Bersama Awan


Hari ini, aku berteriak tentang awan,...

Dia yang tak pernah turun

Tentang esok yang buram dan tak menawan

Atau masa lalu tak harum


Aku tahu, ayam pun tak berkokok

Tuk kehangatan lampu kandang

Tapi aku tidak makan dengan sendok

Aku pejalan kaki bukan terbang

Tak perlu sayap diriku

Aku hanya perlu diriku

Kaki, tangan, dan awanku

Bukan tepuk dan tanganmu

Melihat Fenomena Samizdat

Bagi mereka yang tertarik mempelajari tentang Rusia, sudah tentu mengenal samizdat. Samizdat adalah salah satu kebiasaan warisan dari masyarakat Uni Soviet. Ya, Rusia sebagai pewaris Uni Soviet tentu saja tidak hanya mewarisi nuklir dan wilayah saja tetapi juga kebudayaan yang ekstrim seperti samizdat ini.

Samizdat adalah bentuk sebuah pembajakan (bukan plagiat) atau penyelundupan illegal sebuah karya kemudian disebarkan kepada publik atau pun secara sembunyi-sembunyi.

Pada era modern seperti ini, kita bisa melihat fenomena samizdat yang paling diketahui di dunia seperti Library Genesis dan Sci-Hub. Dua situs penyedia karya tulis ilmiah bajakan ini berasal dari Rusia atau pun orang yang memiliki hubungan dengan kebudayaannya. Pemilik Sci-Hub (Elbakyan) meskipun bukan orang Rusia, tetapi dia merupakan orang yang berbahasa Rusia, berdarah campuran dengan Rusia, dan berideologi komunis USSR.

Jika anda mencoba untuk menjelajah di website2 dan sosial media Rusia, anda bisa bahwa sebenarnya fenomena samizdat di era sekarang ini jauh lebih besar daripada dua situs yang telah disebutkan. Coba lah anda mencari film-film di VKontakte (Facebook-nya Rusia), anda akan menemukan hampir semua film yang anda butuhkan di sana. Jika Netflix memiliki tayangan baru, anda dapat menemukannya di VK secara gratis. Hanya saja semua berbahasa Rusia, sehingga untuk mereka yang tidak dapat membaca abjad Cryllic sudah tentu kesulitan.

Mungkin saja VK terlalu tersembunyi untuk di dunia secara internasional, ternyata samizdat juga dilakukan dengan cara yang lebih terang-terangan.

Di YouTube misalnya, sebuah akun dengan nama Videoland menyediakan puluhan film dan serial Rusia secara cuma-cuma. Walau pun sekarang sudah banyak pustakanya yang terblokir, channel ini pernah berjaya besar. Beberapa film yang belum terblokir masih tersedia, salah satunya adalah film Leviathan; film yang telah disensor.

Channel ini memiliki ditonton puluhan juta kali. Bahkan, channel ini mendapatkan vertifikasi dari YouTube. Hal yang aneh mengapa sebuah channel samizdat berhasil meraih puluhan juta kali tontonan dan vertifikasi dari YouTube.

Pada kesimpulannya, dalam budaya Samizdat, jika anda tidak dapat memperoleh sesuatu bukan berarti bahwa tidak ada cara lain.

Presentasi BeBeMon Akhir Bulan Januari #38

Pada akhir bulan Januari ini tanggal 31, saya akan mengadakan presentasi mengenai BeBeMon lewat Google Meet.

Presentasi akan dibawakan oleh saya pribadi. Para peserta dapat bertanya secara langsung. Selain bertanya, peserta juga dapat bergabung bersama BeBeMon atau memberi saran.

BeBeMon adalah proyek saya yang bertujuan untuk mempromosikan informasi tentang Eropa Timur dan Asia Tengah. Menurut saya, dua wilayah ini sangat strategis dan perlu sekali untuk dieksplorasi. Selain itu, masa depan untuk wilayah tersebut sangat beragam.

Nantikan presentasi BeBeMon.

Jika ingin mendengar presentasi BeBeMon, hubungi saya di https://t.me/JingXingOriginal

Kripto Kurrensi?

Mungkin masih ada diantara kita yang masih ragu dengan kripto kurrensi (maaf gua pakai transliterasi). Mungkin sekarang anda2 dan saya masih meragukan mata uang model kayak gini.

Tapi, mungkin suatu saat bakal lebih meyakinkan.

Saya ambilkan apa yang terjadi di beberapa platform yang menggunakan kripto kurrensi; Minds.com dan Brave Browser. Selain menggunakan mata uang beneran, mereka juga menggunakan kripto kurrensi.

Mungkin ada yang menganggap kalau kripto kurrensi itu tidak aman atau bagaimana tapi melihat dari yang dipraktekkan dari dua platform tersebut, saya dapat melihat model resiko kerugian-nya sama dengan ketika anda memiliki uang. Tapi bagusnya, mereka lebih transparan dan real-time mengenai berapa nilai kripto kurrensi mereka jika di-uang-kan.

Kita bisa ibaratkan, anda memiliki uang rupiah 15.000 bernilai 1 Dollar tapi di kemudian hari dia bisa 20.000 rupiah bernilai hanya 1 dollar juga. Jadi mirip2 lah dengan kripto kurrensi.

Sayangnya, kripto kurrensi mungkin saja lebih tidak stabil dan bisa jadi jika perusahaannya bangkrut, maka tiba2 nilainya anjlok.

Poin lebih lainnya untuk kripto kurrensi adalah bahwa mata uang ini lebih tidak terikat dengan bank-bank pusat atau perekonomian suatu negara.

Menurut saya, ini adalah hal yang sangat bagus untuk desentralisasi ekonomi.

Jika kita masih saja menggunakan uang konvesional seperti Rupiah, Dollar, dll, kita tentu akan terus terikat dengan mereka yang mengeluarkan mata uang tersebut. Dengan adanya kripto kurrensi, kita bisa untuk lebih tidak terikat atau setidaknya memilih siapa yang kita akan terikat . Meskipun untuk saat ini mungkin masih kurang, tapi ini memungkinkan.

Dengan segala kekurangannya, saya yakin masa depan kripto kurrensi sangat meyakinkan. Mungkin untuk jumlah besar, masyarakat masih meragukan tetapi dengan adanya dua platform tersebut, masyarakat dapat merasakan manfaat mata uang baru ini dalam jumlah yang terjangkau atau bahkan tanpa modal.

Mengapa Bivshiye Begitu Luar Biasa #36

Tidak semua orang tahu tentang Bivshiye (mantan). Hanya segelintir orang di Indonesia yang memiliki kesempatan untuk tahu serial yang terkenal ini. Ya, mungkin memang hanya saya orang yang tertarik dengan serial Rusia. wwkwk.

Serial ini disutradai oleh Ivan Kitaev. Saya pribadi baru mengenal orang ini jadi tidak perlu dibahas.

Hal yang ditonjolkan dari serial ini melalui cover-nya adalah pemeran utamanya Lyubov Aksenova. Lyubov Aksenova adalah aktris muda yang menjadi ikon dari Start.ru.

Aksenova benar-benar mampu memberikan kesan ciri khas karakter unik Yana; seorang anak manja tapi pemberani.

Selain karakter Yana yang unik, Bivshiye mengupas berbagai topik yang sebenarnya biasa dengan sangat baik. Broken Home, cinta segitiga, kehidupan orang kaya, mental, dan lain-lain.

Pada cinta segitiga misalnya, kisah cinta tidak dibuat seperti seorang laki-laki begitu saja meninggalkan istrinya, tapi ini dibuat lebih unik. Seorang laki-laki yang mencintai perempuan lain tetapi juga mencintai istrinya.

Pada intinya, kehebatan karaker Yana dan plot yang unik adalah daya tarik utama dari serial ini.

Sebuah Ide dari Pondok Pesantren #35

Saya akan menceritakan tentang pondok pesantren yang pernah saya bersekolah di sana; yaitu SMPIP Al-Madinah Boyolali dan MA ICBB Bantul. Dua pondok pesantren ini sebenarnya sangat terkenal, namanya sudah tersoar di tingkat nasional.

Hal yang menarik dari dua pondok pesantren ini adalah pemikirannnya sangat luar biasa menurut saya; mereka berusaha untuk menerima semua orang tanpa kecuali. Berbeda dengan pondok atau pun sekolah kebanyakan yang memiliki sistem pendaftaran yang ketat, mereka dikenal sebagai pondok yang “asal menerima”. Seleksi-seleksi yang mereka lakukan sama sekali tidak ketat dan soal-soal pendaftarannya sangat mudah.

Padahal, jika melihat dari para pendiri atau istilahnya founding fathers-nya, dua pondok ini memiliki nama yang bukan main. SMPIP Al-Madinah dan MA ICBB keduanya berada di bawah yayasan yang berisi Ustadz-Ustadz salafy senior yang tidak perlu lagi diragukan kapasitas dan jaringan yang mereka miliki.

Ketika saya masih santri dulu, selalu ada anggapan di kalangan sebagian santri bahwa pondok pesantren sudah seharusnya untuk memberikan seleksi yang lebih ketat dan tidak asal menerima santri. Dengan menerima seorang santri, pondok pesantren memiliki tanggung jawab lebih untuk mengurus. Sehingga pondok pesantren tidak akan salah menerima seorang santri yang tidak cocok untuk sistem yang ada atau dengan kata lain “bandel”. Selain santri “bandel”, hal lain yang menjadi pertimbangan mereka adalah kualitas santri yang sangat jauh di bawah jika dibandingkan dengan pondok-pondok lain. Ketika pondok-pondok saingan (pesaing) memberikan standar kelulusan yang tinggi, dua pondok ini tetap saja memilih untuk memiliki standar yang biasa-biasa saja.

Kesimpulannya, “bandel” dan kualitas santri adalah kelemahan dari pondok pesantren.

Saya yang dari awal memang sangat setuju dengan pendapat bahwa pondok pesantren sudah sebaiknya tidak menghalangi siapa pun untuk belajar, saya melihat dua alasan “bandel” dan “kualitas” adalah alasan yang kurang tepat.

Sistem pendidikan di pondok pesantren sudah sebaiknya dirancang sedemikian rupa supaya semua orang mampu untuk belajar bukan untuk kalangan-kalangan tertentu. Ilmu agama adalah hak semua orang untuk tahu. Dengan mengadakan seleksi, kita tentu secara langsung mengurangi kesempatan seseorang yang ingin untuk belajar.

Entah anda adalah orang yang “bandel” atau pun tidak, anda tetap memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan agama. Dengan pondok pesantren yang menerima santri baru siapa pun dia, sebuah pondok pesantren telah melakukan tugasnya untuk menyebarkan dakwah para Nabi dan Rasul.

Untuk permasalahan kualitas atau standar kelulusan, mungkin pondok tampak kalah dengan pesaingnya tapi kita tidak hanya melihat dari kualitas yang terlihat. Bisa jadi seseorang dengan kualitas hafalan al-Qur’an lebih rendah, memiliki akhlak yang jauh lebih tinggi. Ada juga mungkin santri yang memang memiliki cita-cita untuk menjadi ahli di bidang lain dari apa yang ada menjadi standar kelulusan. Kualitas atau pun standar kelulusan yang ada bukan lah satu-satunya mengukur kehebatan seorang santri.

Saya teringat dua ucapan dari dua Ustadz. Pertama adalah Ustadz Abu Qotadah dari Ihya As-Sunnah Tasikmalaya. Dia mengatakan jika semua orang baik2 saja yang diterima di pondok pesantren, orang-orang yang nakal mau diterima di mana. Kedua adalah Ustadz Mustamin dari As-Sunnah Makassar. Dia mengatakan bahwa tidak semua santri akan menjadi orang yang duduk memberikan fatwa tetapi ada yang memiliki profesi lain.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa sebuah sistem pendidikan sebaiknya memiliki dua hal: menerima siapa pun dan memperbaiki standar kelulusan dan kualitas untuk lebih ramah. Mungkin pada praktiknya, hal ini tidak sepenuhnya terjadi tetapi setidaknya itu adalah cita-cita dan asas untuk bertindak.

Mengapa Saya Tertarik dengan Minds #34 (kelewatan)

Saya kelewatan, tapi sebenarnya saya masih menulis hanya saja belum saya publikasikan, saya

Mengapa Saya Tertarik dengan Minds

Saya sebenarnya sudah mendaftar Minds pada akhir tahun 2020. Saat itu Saya menemukan tulisan di Listed.to tentang alternatif media sosial yang lebih ramah terhadap privasi. Dia memberikan beberapa pilihan dan salah satunya adalah Minds.

Saya pun mendaftar ke Minds dan ketika itu saya mengira bahwa platform ini adalah biasa-biasa saja. Banyak sosial media lain yang memang berusaha untuk membuat alternatif tetapi hanya lewat saja. Mereka ada, orang mendaftar, dan lalu meninggalkannya begitu saja. Atau dengan kata lain, mereka hanyalah sensasi sesaat. Saya pun hanya sekedar mendaftar dan merasakan sesaat saja lalu melupakannya.

Beberapa hari yang lalu (17 Januari 2020), saya menemukan sebuah berita di RT, sebuah situs berita yang sangat kritis terhadap negara-negara Barat tapi sangat pro-Rusia, tentang Minds yang mendapatkan peringatan dari Google. Sangat mengherankan, mengapa RT berhasil meliput berita seperti ini. Seharusnya, media-media Barat lebih layak untuk mengangkat isu seperti ini.

Saya sebenarnya tidak terlalu memikirkan masalah Twitter yang memblokir Trump tetapi saat itu saya melihat masalah tentang Minds. Saat itu, saya hanya membaca beritanya secara sekilas kemudian saya teringat bahwa saya masih masih memiliki Minds terinstall di HP saya.

Saya pun membukanya dan saya pun melihat ternyata media sosial ini memang memiliki banyak pengguna yang aktif. Ketika melihat orang-orang di sana berbicara berkenaan dengan #censorship dan #exodus, saya pun mulai tertarik dengan platform ini. Ternyata memang ada orang yang memang aktif di Minds. Saya pun mulai memakainya sebagai salah satu media sosial utama saya.

Anda dapat bergabung dengan Minds

Merasakan Patriotisme Rusia #33

Saya termasuk orang yang sangat tertarik dengan hal yang berkaitan dengan Rusia. Negara ini merupakan negara yang sangat besar dan luas. Tidak hanya berkaitan dengan wilayahnya tetapi pada kebudayaannya.

Salah satu hal yang menarik adalah tentang Cinta Tanah Air di Rusia. Sebenarnya tidak hanya di Rusia tetapi negara-negara di Eropa Timur dan Asia Tengah, mereka memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi.

Saya akhirnya menemukan sebuah lagu yang dapat menjelaskan betapa besarnya rasa patriot itu. Mungkin kita tahu lagu kebangsaan Uni Soviet dan Rusia adalah gambaran luar biasa tentang patriotisme di sana tapi lagu ini memiliki pendekatan berbeda. Lagu kebangsaan itu bisa jadi memiliki unsur-unsur politik dan lain-lain dengan kata lain tidak murni sebuah karya seni curahan hati. Karena itu lah, kita perlu untuk mencari hal yang lebih dari sekedar lagu kebangsaan; lagu ini.

Lagu ini adalah Rodina (Tanah Air) dimiliki oleh Sergey Trofimov tetapi telah di-cover oleh beberapa orang. Salah satu dari mereka adalah Viktorya Cherentsova. Dia adalah salah satu mantan pemain Voice of Rusia.

Lagu ini menggambarkan bagaimana rasa cinta itu begitu dalam dan terkenang dalam hati penyanyi. Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana rasanya, anda dapat merasakannya sendiri dengan menonton video dengan subtitle ini.

Pikiran Bahasa Inggris Mulai Pulih #32

Saya baru saja menyelesaikan tulisan saya mengenai Navalny. Anda bisa cek di https://jingxink.link.

Kemampuan bahasa Inggris saya mulai kembali pulih setelah saya menulis status menggunakan bahasa Inggris.

Saya kita ada hubungan erat antara pikiran dengan bahasa. Pikiran mempengaruhi bahasa.

Saya memang lebih condong kepada teori relativisme bahasa meskipun yang versi ekstrimnya tentu saja tidak dapat diterima.

Saya rasa saya perlu libur dulu untuk menulis hari ini. Begini saja tulisan saya.

Bahasa Asing Saling Mengganggu #30

Pikiran saya sedang kacau dan ini sepertinya diakibatkan karena bahasa-bahasa yang saya pakai sehari-hari.

Saya menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia untuk berkomunikasi di dunia nyata. Saya memakai bahasa Inggris dan Rusia untuk melihat konten-konten di dunia maya. Sementara itu, saya memakai bahasa Arab ketika sedang beribadah.

Mungkin pada sebagian hal tidak terlalu bermasalah tapi yang paling tampak bermasalah adalah bahasa Inggris dan bahasa Rusia saya. Dua bahasa ini bukan lah bahasa yang biasanya saya pakai dan sekaligus belum saya kuasai sempurna sehingga jika ada permasalahan akan sangat terasa.

Saya sedang merasakan bagaimana kemampuan bahasa Inggris saya berkurang sejak saya semakin banyak menelan konten-konten berbahasa Rusia. Kemampuan menulis dalam bahasa Inggris saya mulai menumpul. Selain itu, ungkapan2 bahasa Inggris mulai pergi di kepala saya dan berganti dengan ungkapan-ungkapan bahasa Rusia.

Proyek tuliasn saya tentang Navalny sudah lebih dari dua pekan dan belum kelar. Saya sudah memiliki ide di kepala tapi kenapa ketika menuliskan dalam bahasa Inggris, otak saya tidak se-encer dulu.

Pada akhirnya, saya menikmati saja apa yang terjadi.

Kesan Episode Pertama ALZHIR #29

Baru saja saya menyelesaikan episode pertama dari drama serial Rusia ALZHIR.

Kesan saya, drama ini sangat menarik dari segi tokoh, plot, dan materi yang diangkat.

Kisahnya mengenai dua orang perempuan yang terpaksa menjadi tahanan kerja di era Stalin. Satu berasal dari seorang perempuan yang memiliki keluarga bahagia. Dia dan suaminya dikirim ke tahanan kerja. Mereka berdua terpisah karena tahanan pria dan wanita dibedakan. Yang satu lainnya adalah perempuan juga tetapi seorang perempuan yang memiliki karir sukses sebagai seorang penyanyi.

Selain fokus pada dua tokoh tersebut, tampak juga bahwa drama ini juga memberikan sorotan kepada karakter-karakter wanita lainnya. Seperti perempuan Kazakhstan yang secara tidak sengaja tapi dipaksa untuk menjadi tahanan padahal tidak memiliki kesalahan apa pun. Perempuan ini tidak dapat berbahasa Rusia dan seorang Ibu yang baru saja memiliki anak bayi. Dalam episode ini, ditampakkan berbagai variasi karakter perempuan seperti mereka yang memiliki maskulinitas tinggi sampai yang memang sangat feminin.

Untuk materi yang diangkat tentu saja jauh lebih menarik lagi, kisah tahanan gulag yang begitu fenomenal diramu dengan ke-perempuan-an adalah kombinasi yang luar biasa. Pada epsidoe pertama ini, diangkat pembahasa bagaimana peran perempuan dari berbagai macamnya tetapi tidak serta-merta menggunakan cara pandang Barat. Sebuah materi yang unik dan sangat berbobot.

YouTuber Belum Tentu Ahli #28

Saya pernah mencoba memperhatikan beberapa YouTuber untuk permasalahan politik. Pembahasan mereka tampaknya memang menarik tapi ada hal yang sebenarnya perlu untuk diperhatikan. Analisis mereka terlalu pribadi atau istilahnya personal. Mereka bahkan menampakkan opini mereka seolah-olah itu adalah sebuah hasil analisis yang seperti analisis-analisis profesional.

Ketika pembahas politik, kita sangat perlu untuk berhati-hati. Politik bukan lah sebuah pembicaraan yang ringan. Karena itu lah, perlu diadakan sebuah perbedaan antara analisis yang benar-benar jurnalis dan yang bersifat opini pribadi.

Permasalahan YouTube adalah YouTube memperlihatkan channel para YouTuber tidak berdasarkan pada keahlian profesional-nya. Sudah sebaiknya, YouTube membuat perbedaan antara sebuah vlog biasa atau sebuah karya profesional pada bidangnya.