Kim Lobak

Pengen awet muda dan terus menulis > lagi ikutan #CeritadiFebruari

Testimoni Menulis selama Sebulan #CeritadiFebruari

Menulis adalah hal yang menyenangkan. Tetapi, ada banyak rintangan yang menemani perjalananku untuk terus menulis selama sebulan ini. Dan karena itulah, aku merasa bahagia aku dapat menyelesaikan apa yang aku mulai. Meskipun aku tahu aku masih harus belajar banyak, bukan berarti aku harus menunggu jadi sempurna dulu sebelum lanjut menulis.


Halangan terbesar ketika menulis bagiku adalah ketika aku tenggelam di internet; tatkala aku seharusnya mencari tahu ide dan topik yang sedang aku tulis. Tenggelam di internet itu seperti ini: aku mencari tentang topik A, lalu orang lain menyebutkan topik B dan C, tak lama aku melihat topik D dan kemudian bertemu dengan topik E. Jikalau mencari satu topik aku hanya butuh waktu 10 menit; ketika tenggelam aku justru menghabiskan waktu hampir satu jam. Tak hanya itu, otakku juga menjadi kelebihan beban topik. Apabila aku tidak berusaha untuk fokus, aku akan kesulitan menyelesaikan tulisanku.

Topik apa yang sebenarnya menyenangkan untuk ditulis? Aku pribadi suka menuliskan hal-hal yang aku tahu, hal-hal menarik yang aku alami sendiri. Aku tidak begitu suka menulis apa yang orang lain nikmati tetapi aku sendiri tidak begitu menyukainya. Aku mungkin hanya akan melihat sebentar, namun tidak akan kuteruskan hingga mengubek-ubek hingga ke dasar. Di era banjir informasi seperti sekarang, memang cukup sulit untuk melihat dan mendapatkan informasi yang aku senangi setiap saat. Kebanyakan hal yang muncul adalah kata kunci yang orang-orang perhatikan. Sedangkan aku adalah orang yang selalu mengandalkan insting untuk memutuskan; apakah topik yang sedang trending akan dapat memuaskan rasa ingin tahuku. Akhir-akhir ini aku sedang mengikuti berita Rusia dan Ukraina. Aku bersyukur menemukan akun-akun yang dapat memberitakan perang melalui sisi Rusia, sehingga aku dapat mengetahui berita dari kedua sisi--Rusia dan Ukraina. Adapun jika aku kekeuh hanya melihat berita teratas di hasil pencarian, aku hanya dapat melihat berita dari satu sisi saja.

Apakah aku suka menulis? Selama ini aku sadar aku suka bicara sendiri di dalam kepalaku. Namun aku baru menyadari bahwa aku juga suka menumpahkan kata-kata yang selama ini berputar-putar di dalam otak ke dalam media tulis. Kala aku menyusun setiap kata agar dapat dipahami--paling tidak oleh diri sendiri--memang sulit, tetapi aku menikmatinya. Menjadi editor untuk tulisan sendiri pun tidak mudah. Aku sendiri adalah seorang perfeksionis yang sering mengalah. Jika aku yakin dapat memperbaiki, aku akan mencoba. Bila aku sudah merasa mentok, aku memutuskan untuk membiarkannya seperti itu. Seperti yang sudah kusinggung, aku tidak akan bisa terus menulis jika aku terus menunggu hingga apa yang kutulis menjadi sempurna. Waktuku tidak banyak di dunia. Aku harus cepat. Keahlian seseorang tidak butuh waktu semalam untuk jadi terasah, melainkan ribuan malam. Aku harus terus menulis, bagaimanapun hasilnya, agar aku terus melatih cara aku menulis.

Setelah sebulan ikutan #CeritadiFebruari, aku merasakan banyak perubahan. Salah satu yang tidak terduga adalah aku dapat mengetik cukup lancar dari keyboard tanpa sering melihat ke keyboard. Selama ini aku lebih sering mengetik dari ponsel pintar karena aku jarang main laptop. Aku bersyukur mendapatkan kemajuan seperti ini. Hal lain yang patut aku syukuri adalah aku menyadari beberapa hal yang tadinya tampak abu-abu ketika menulis. Aku mulai mampu melihat bagaimana setiap huruf mempunyai ikatan-ikatan tertentu ketika aku menuliskan mereka. Aku juga secara tak sadar menerapkan beberapa aturan: tulisanku harus mudah dicerna, sebisa mungkin singkat, dan selalu menggunakan kalimat aktif daripada pasif. Peraturan seperti ini membuat pengalaman menulisku menjadi terasa seru dan menegangkan. Aku tahu aku tidak bisa memenuhi semuanya setiap aku menulis, tetapi paling tidak aku memahami jenis tulisan apa yang aku harapkan dari tulisanku sendiri.

Bagi siapapun yang ingin menulis, coba lah apa yang aku coba. Tulis lah apa saja, sekali sehari, dalam waktu sebulan. Hal ini sangat menyenangkan, sungguh! Jangan khawatir jika ketinggalan. Aku sendiri absen mengumpulkan tepat waktu hingga 10 hari. Hasilnya aku harus menulis 4 sampai 5 artikel dalam sehari. Walaupun tidak bagus-bagus amat, aku telah membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku dapat melakukan komitmen jangka panjang. Sebelumnya, percaya lah, aku selalu berhenti di hari ke-10. Atau bahkan hari ke-3. Tidak ada yang tidak mungkin. Aku harap orang-orang akan mencobanya. Dengan begini kita juga dapat mengetahui dan mencatat perkembangan pikiran yang selama ini terjadi di dalam kepala. Apapun hasilnya, tidak perlu khawatir. Aku percaya hasil tulisan akan membaik seiring seringnya kita melatih diri untuk terus menulis.

Sanksi Pembatasan Medsos oleh Barat

Per tanggal 27 Februari 2022, media sosial ternama dari Barat seperti Meta (Facebook), Youtube, dan Instagram sudah melakukan ban atau pembatasan terhadap pengguna layanan mereka yang berasal dari Rusia, khususnya outlet berita.1 Metode ban yang dimaksud adalah membuat penyebaran konten tidak bisa dilakukan dari akun tersebut. Akun itu bisa saja dihapus, atau masih ada namun tidak dapat dipakai. Di Youtube, pengguna dari Rusia masih bisa mengunggah video, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan dari iklan. Di Instagram memang belum ada pengumuman resmi, namun akun Kadyrov (pemimpin Chechen) sudah diban.2 Saya menilai sanksi ini sedikit keterlaluan, tidak manusiawi bagi rakyat Rusia, dan mencoreng arti hak kebebasan untuk bersuara yang sering digaungkan oleh Barat.


Sanksi mulai diberikan tak lama setelah Zelensky, Presiden Ukraina, menolak untuk melakukan negosiasi dengan Rusia. Layanan media sosial seperti Meta pun melakukan ban terhadap media Rusia. Hal ini menyebabkan berita yang ditulis oleh media Rusia tidak dapat dibaca dari Meta (Facebook). Tak terbayangkan betapa terpusatnya berita tentang Perang Ukraina dan Rusia yang hanya berasal dari media Barat dan sekutunya. Semua media memberitakan hal yang sama persis. Padahal dalam perang, kebenaran itu sangat mahal. Kedua belah pihak memiliki sudut pandang tersendiri yang patut diamati agar dapat dijadikan perbandingan, mana yang benar dan mana yang karangan. Setelah semua berakhir, sejarah akan ditulis oleh pemenang. Langkah yang dibuat oleh media sosial Barat seakan mengatakan bahwa pemenang perang ini, tak lain dan tak bukan sudah ditentukan, adalah Barat.

Rakyat biasa Rusia yang mengandalkan penghasilan hidup dari konten mereka di Youtube tentu akan kesulitan setelah mendengar kebijakan Youtube malam tadi pada waktu setempat. Mereka masih bisa mengunggah video, namun tidak akan mendapatkan insentif sama sekali. Jika mereka punya laman donasi seperti Patreon (layanan penghimpun dana dukungan yang mirip Saweria) mungkin tidak akan begitu kelabakan. Namun bagi yang tidak punya banyak pelanggan setia, insentif dari iklan Youtube mungkin akan berjumlah jauh lebih banyak daripada donasi sukarela dari penonton. Hal ini mungkin terdengar remeh bagi kita, apalagi pekerjaan pencipta konten sebagian besar diisi oleh anak muda. Budaya Youtube di Rusia dan Indonesia memiliki sedikit perbedaan. Di akun Youtuber Rusia sendiri, ada banyak kolom komentar yang ramai dan interaktif meskipun jumlah pelanggannya belum sampai ratusan ribu. Berdasarkan pengamatan pribadi, netizen Rusia di Youtube sering meninggalkan komentar dukungan setelah menonton konten yang mereka anggap menarik ataupun membantu-- tanpa melihat jumlah pelanggan (subscriber). Komentar itu ada yang sesederhana menyatakan “Keren!”, namun lebih banyak yang mengucapkan salam, menyampaikan terima kasih, mengatakan konten mereka keren dan membantu, serta menyatakan hasrat ingin menunggu konten lainnya dari sang pencipta konten. Sangat mudah menjalin rasa kedekatan dengan cara ini, serta akan menguntungkan bagi pencipta konten untuk jangka panjang. Makanya saya menilai, keputusan Youtube untuk menghentikan iklan di konten unggahan pengguna seakan membawa petaka lain bagi rakyat biasa Rusia.

Amandemen pertama konstitusi dari Barat (Amerika Serikat) adalah perlindungan kebebasan untuk berpendapat.3 Jika hak ini dilanggar maka akan mendapatkan hukuman yang berat. Kira-kira seperti itu penerapannya dalam konteks media sosial. Namun belum lama ini dan tiba-tiba, Barat mengumumkan sanksi pembatasan untuk penggunaan medsos-- khususnya bagi media Rusia. Sanksi pembatasan ini seperti pedang bermata dua bagi Barat. Mereka ingin hanya propaganda Barat yang menyebar ke seluruh dunia; tetapi mereka juga seperti mengatakan kepada para pengguna layanan mereka dari seluruh dunia, "Jika saya mau, kapan pun itu saya akan dapat mengatur dan menghambat kebebasan bersuara kalian." Hal ini sungguh terdengar seperti ancaman agar negara lain tidak ikut-ikutan Rusia.

Sanksi pembatasan medsos oleh Barat juga menimbulkan alarm peringatan bagi diri saya sendiri. Hampir seluruh layanan internet yang saya gunakan berasal dari Barat. Tidak dipungkiri, Barat memiliki banyak layanan yang mudah digunakan dan terjangkau bagi semua khalayak. Namun, saya tidak ingin di masa depan kebebasan saya diambil semena-mena oleh Barat seperti itu. Saya bukan ahli kenegaraan apalagi ahli politik; saya hanya mendapatkan insting buruk setelah membaca berita tersebut. Tingkat Indonesia memang ada di bawah Rusia dan kecil kemungkinan melakukan hal yang sama seperti Rusia, namun justru itu lah yang membuat saya khawatir; Indonesia akan merugi jika mendapatkan sanksi serupa--entah karena masalah apa nanti di masa depan, kita tidak bisa menebak Barat. Indonesia tidak memiliki layanan medsos sendiri seperti Rusia yang punya VKontakte dan Live Journal. Setahu saya baru Kompasiana yang mirip dengan Live Journal (namun ada pengawasan), Kaskus mirip dengan Reddit; tapi tampaknya penggunaannya masih terbatas pada segmen masyarakat tertentu. Pengguna Facebook dan WhatsApp yang mencapai ratusan juta apakah mungkin dapat pindah platform bikinan Indonesia jika suatu hari kedua layanan itu dibatasi? Jika suatu hari kita terlibat ribut-ribut, hancur lah penyebaran berita kita ketika kita masih bersandar pada media sosial buatan negara lain. Saya sendiri membayangkan jika hal itu amit-amit benar terjadi, mungkin saya tidak akan dapat menggunakan layanan internet yang saya sukai karena berasal dari Barat semua.

Meski begitu, saya masih belum menemukan platform menulis di Indonesia yang memberi kebebasan berpendapat seperti Blogger dan Listed.to. Saya memeriksa syarat dan kebijakan Kompasiana, memang bagus peraturannya, namun menurut saya terlalu mengatur. Saya bahkan tidak berani merilis tulisan ini di sana karena takut dianggap menyebarkan ujaran kebencian. Percaya lah, saya hanya sedang panik sekaligus kecewa ketika memerhatikan keadaan kedua belah pihak yang sedang berperang saat ini.

Sanksi pembatasan media sosial oleh Barat tampaknya akan menimbulkan banyak efek samping di masa depan. Saya mengira mungkin negara-negara lain yang belum punya platform sendiri akan segera meluncurkan media sosial untuk warga mereka. Sejauh ini saya baru mengetahui ketiga negara Asia Timur yang semuanya memiliki layanan blog sendiri. Bahkan China dan Korea Selatan memiliki mesin pencari dan database sendiri. China juga punya banyak layanan mikro-blog dan layanan berbagi video. Di Rusia ada Yandex yang hampir seperti Google. VKontakte juga banyak digunakan di sana, mirip fungsinya dengan Facebook. Untuk negara lain saya kurang paham. Mungkin ada, namun terbatas gaungnya untuk warga setempat. Saya harap Indonesia dapat belajar dari hal ini dan membuat alternatif layanan internet sendiri. Dengan begini data orang kita juga tidak akan dijual sembarangan oleh penyedia layanan luar negeri. Dan orang-orang paranoid seperti saya akan tetap dapat menggunakan layanan internet tanpa terganggu dengan kepentingan pihak luar.

Impostor Syndrome

Impostor syndrome atau sindrom impostor (impostor= penipu ulung) adalah fenomena ketika seseorang merasa bahwa kesuksesan yang dia raih adalah hasil dari keberuntungan semata. Orang yang mengalami sindrom ini tidak merasa dirinya kompeten meskipun mereka sudah mendapatkan banyak hal. Mereka juga punya ketakutan berlebihan tidak akan berhasil lagi di lain kali.1


Pauline Rose Clance, psikolog yang mencanangkan sindrom impostor, menyediakan Tes Impostor Syndrome yang bisa orang awam coba untuk mengetahui sindrom impostor lebih lanjut. Tetap saja, hasil tes tidak bisa menggantikan diagnosis resmi dari psikolog. Kamu harus datang langsung ke psikolog untuk berkonsultasi jika kamu mengkhawatirkan hasil tes tersebut. Jangan khawatir, orang awam kurasa akan mudah paham dengan instruksi tes sindrom impostor Pauline.

Aku sendiri mendapat nilai yang cukup tinggi, yaitu 93 dari 100. Artinya, sindrom impostor sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hariku. Sekilas memang, kubaca sindrom ini membuat orang yang mengalaminya merasa seperti penipu ulung di antara orang-orang berbakat. Rasanya seperti aku berada di tempat yang penuh orang pintar karena faktor rezeki nomplok. Aku merasa tidak sehebat orang lain, juga merasa kepintaran yang aku punya tidak sebanding dengan pencapaian yang aku peroleh. Akibatnya, aku merasa aku telah menipu banyak orang. Aku sedikit kaget tiap kali ada orang yang memujiku. Aku merasa tidak pantas dibilang begitu, yang terdengar seperti pujian berlebihan. Aku bisa merasa begitu karena takut-- mungkin di masa depan aku tidak akan bisa mendapatkan kesuksesan yang setara, atau yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi aku juga merasa sesederhana memang begitu lah aku, tidak sehebat pujian yang orang lain berikan. Orang lain tidak begitu mengetahui semua yang kulakukan, jadi mereka bisa bilang seperti itu.

Aku juga punya ketakutan mendapatkan evaluasi dari orang lain. Ketika aku menjabarkan evaluasi akhir tahun atas pencapaianku sebagai salah satu anggota sebuah organisasi, aku masih ingat aku merasa tidak pernah melakukan apa-apa yang signifikan--bila dibandingkan dengan pekerjaan rekanku. Aku ketakutan setengah mati membayangkan respon orang lain yang mungkin akan menghujaniku dengan tatapan, "Kamu ngapain aja selama ini?" Pada akhirnya, aku menyadari orang-orang tidak begitu memerhatikan. Bahkan di sesi bertanya, tidak ada yang menyinggung hal itu sama sekali. Jika dilihat dari sisi orang luar, aku memang selalu datang setiap waktu aku dibutuhkan, kecuali jika ada halangan. Tapi aku tetap merasa kurang berkontribusi dan kurang kompeten hingga akhir tahun kepengurusan datang. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan orang lain yang sebenarnya, karena orang-orang sangat mungkin menyampaikan pendapat dengan gula yang berlapis-lapis--tapi aku seratus persen yakin aku hanya melakukan sebatas yang aku bisa. Aku merasa kurang maksimal selama ini. Apakah ini sindrom impostor? Sejujurnya aku juga tidak begitu yakin. Aku merasa lebih masuk akal jika aku mendapatkan banyak hal bagus akibat keberuntungan berada di waktu dan bertemu dengan orang yang tepat.

Kalau melihat video di Youtube dan beberapa kiriman di Reddit, aku menyadari banyak orang berpikiran bahwa mereka merasa tidak pantas berada di posisi mereka sekarang, yang merupakan posisi tinggi di bidang mereka. Keadaan ini membuat mereka merasa takut, seakan-akan mereka tidak punya kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi tugas-tugas yang mereka temui di posisi itu. Dari sudut pandang orang luar, tentu ini terlihat seperti sesuatu yang berlebihan. Orang-orang yang berada di posisi atas adalah orang-orang yang memang mampu menghadapi tekanan di atas pada saat itu. Setahuku begini lah hukum alam bekerja. Orang-orang akan mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan. Nyatanya, aku bisa berkata demikian karena sekarang aku tidak sedang memiliki pencapaian apapun. Aku tetap bisa merasakan dan mengerti bahwa sudut pandang orang luar ini sangat sulit meruntuhkan ketakutan, jikalau aku sedang berada di posisi yang penuh dengan orang berbakat. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa, kan?

Bagaimana cara mengatasi sindrom impostor? Penjelasan video TEDEd menyatakan bahwa cara menghadapi sindrom ini adalah dengan berbagi kesulitan yang kita hadapi dengan orang lain. Tentu akan menyenangkan jika kita bisa berbagi dengan pendengar yang baik. Jika kita tidak punya teman, aku berpendapat bahwa menuangkan apa yang kita rasakan di buku atau aplikasi catatan dapat sedikit membantu. Setidaknya kita bisa menyadari bahwa otak kita sendiri lah yang mencurigai kita selama ini. Orang lain bahkan mungkin tidak akan memerhatikan setiap gerakan yang kita ambil sedetail perhatian dari otak kita. Dengan begini, kita bisa mencoba untuk berpikir seperti orang luar dan mengevaluasi pikiran kita sendiri.

Di tulisan kali ini pun, aku baru menyadari bahwa aku cenderung meragukan kualitas diri sendiri. Aku tidak sedang mengatakan aku adalah orang paling hebat sedunia, bukan itu. Akan tetapi, aku selama ini gagal mengetahui bahwa aku juga bekerja keras sesuai kemampuanku saat itu--untuk mendapatkan apa yang aku dapatkan pada saat itu. Keberuntungan tentu ikut bermain, tetapi bukan berarti aku diam saja selama ini. Toh, jika aku sungguh berdiam diri, hukum alam yang berlaku adalah aku tidak akan mendapatkan apa-apa, entah itu masalah atau keberuntungan. Jadi paling tidak, aku bisa melawan penilaian kepalaku yang penuh prasangka dan berkata: aku juga sudah berusaha sesuai kemampuanku selama ini.

Kue Nastar

Kue nastar adalah kue kering yang termasuk dalam jajaran kue lebaran. Kue nastar terkenal dengan isian nanas yang sudah dilembutkan. Biasanya sebelum hari lebaran, aku dan keluarga membuat kue nastar bersama. Sampai saat ini tidak akan pernah kuragukan lagi; kue nastar adalah favoritku.


Dari pengalamanku, semakin banyak susu di adonan nastar, akan semakin lembut juga bagian dalam kue nastar. Aroma nastar juga akan lebih mengundang nafsu makan jika ditambah potongan cengkeh di laur. Kuning telur juga harus dioles sebelum masuk ke dalam oven. Warna nastar matang akan menjadi kuning kecokelatan, bersinar mengkilap di bawah cahaya lampu.

Apa yang membuat kue nastar spesial--menurutku adalah nanas di dalamnya. Rasa nanas yang asam segar bertemu dengan adonan telur tepung dan susu yang gurih dan manis. Di dalam mulut, semua rasa itu bersatu menghajar indra perasa di seluruh lidah. Seringkali aku lupa diri jika melihat kue nastar di dalam toples. Tak jarang aku bisa makan bolak-balik dalam sekali duduk. Setelah itu aku akan dimarahi karena makan terlalu banyak, padahal masih hari pertama lebaran.

Kriteria nastar yang enak, bagaimana menurutmu? Jawaban dariku adalah: nastar yang luarnya tampak kokoh, namun ketika bagian dalam dikunyah akan terasa lembut, sebelum akhirnya gigi mengenai nanas yang berserat. Nanas tidak boleh terlalu sedikit, namun juga tidak enak bila kebanyakan. Aku pernah makan nastar yang dijual, namun kadang rasanya tidak seenak bikinan sendiri. Rasa adonan nastar adalah faktor penentu enak atau tidaknya nastar itu ketika dimakan. Kadang visual nastar yang dijual itu tampak enak lagi harum semerbak. Namun ketika dimakan, olala ternyata keras dan tidak terasa kelembutan adonan dalam nastar. Aku tidak tahu apa ada yang bisa memahami perkataanku…

Kalau kue nastar yang dikemas dalam kemasan seperti Nextar, apakah enak? Kalau Nextar, aku kurang suka yang rasa aslinya, rasa nanas. Menurutku rasanya terlalu asam, sedangkan adonan Nextar tidak sebanyak nastar biasa, jadi tidak bisa mengimbangi rasa asam itu. Namun, untuk Nextar rasa cokelat, menurutku itu adalah juara satu untuk kue kering di minimarket. Rasa cokelatnya pas, adonan nastar juga lembut dan ketika keduanya menyatu, sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Menurutku Nextar rasa cokelat adalah legenda dari semua kue serupa. Aku sangat bersyukur dapat merasakan rasa kue seenak itu.

Sebentar lagi bulan Ramadhan akan tiba. Artinya, lebaran juga tidak akan lama lagi. Wah, waktu memang berjalan sangat cepat. Jika aku masih diberi kesempatan untuk melalui bulan Ramadhan lagi, aku ingin makan kue nastar lagi pada lebaran tahun ini. Walaupun tidak mungkin untuk membuat sendiri lagi, setidaknya Nextar sudah cukup. Aku merasa, mungkin saja nanti, kami akan membeli kue nastar yang dibuat oleh tetangga. Siapa tahu, kan, ada yang jualan. Semoga saja rasanya enak. Meski tidak seenak buatan sendiri, itu masih jauh lebih baik daripada tidak ada nastar sama sekali. Atau, setidaknya nanti aku akan beli Nextar cokelat. Menurutku itu sudah cukup. Tapi tetap saja, aku rindu dengan kue nastar yang biasa aku makan di hari lebaran yang telah lalu.

Memilih Cemilan

Apa cemilan kesukaanmu? Ada orang yang mewajibkan diri membeli cemilan yang bikin kenyang. Ada yang sedang dalam budget ketat sehingga hanya melihat cemilan yang sedang diskon. Ada yang lebih suka asin dan akan menolak cemilan manis. Ada yang hanya ingin makan cemilan yang dia makan seumur hidupnya. Ada yang lebih suka mencoba cemilan baru. Ada yang harus melihat daftar komposisi baru bisa memutuskan untuk membeli. Masih banyak jenis ada yang lainnya. Aku sudah pernah mengalami semua di atas. Untuk sekarang, aku termasuk di tipe yang terakhir.


Aku sudah lama tahu bahwa apa yang masuk ke usus kita akan memengaruhi seluruh kerja organ tubuh. Kebanyakan gula, misal, akan sangat merugikan jika dilakukan untuk waktu yang lama. Ada juga yang namanya alergi. Alergi gluten--yang mudah ditemukan di produk tepung, alergi susu, hingga alergi kacang-kacangan; semakin tahu alergi kita, semakin baik. Aku sendiri menghindari makan makanan yang dikemas oleh pabrik. Kenapa?

Makanan dari pabrik banyak mengandung bahan artifisial. Dari pewarna, perasa, hingga pengawet. Makanan yang nyata, misal makanan rumahan yang dijual di warteg dan restoran, jauh lebih aman daripada makanan pabrik. Jika sedang terjadi bencana, tentu makanan pabrik sangat berguna. Tetapi untuk sehari-hari dan jangka panjang, aku sudah banyak mendengar larangan untuk makan itu jika tidak mau terserang penyakit macam-macam nanti. Kalau sesekali masih tidak apa. Prinsip dalam kesehatan itu akan selalu sama. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Ketika lapar, cemilan menjadi hal yang terlihat enak dimakan. Tidak seberat nasi, namun memberi efek yang sama seperti makan nasi. Nikmat makan dan mengisi perut. Aku sering mengatakan kepada diri sendiri, “Jangan habisin kuenya sekaligus!” Tentu saja, tidak pernah berhasil. Jauh lebih efektif bila aku tidak membeli sama sekali.

Aku suka cemilan. Tapi biasanya sering merasa menyesal setelah makan. Jadi, jika aku beli cemilan kemasan, aku selalu memelototi bagian belakang kemasan. Aku selalu memastikan kandungan gula tidak melebihi 20g per takaran saji. Sayangnya, jarang sekali cemilan manis yang bisa memenuhi syarat itu. Biasanya cemilan asin saja yang rendah gula. Tetapi, cemilan asin punya kadar sodium yang tinggi. Seperti mie contohnya. Aku selalu berjerawat setelah makan mie. Kalau makan mie yang harus dimasak dengan bumbu sendiri, masih mending. Berbeda dengan mie seperti Indomie, ada saja efek di tubuh setelah usai makan. Aku pun sudah cukup lama menahan diri agar tidak tergoda dengan Indomie. Mungkin karena sudah tidak sering makan itu lah, aku merasa rasa bumbu mie tidak seenak yang aku ingat.

Tadi malam, aku tertarik untuk beli kacang di Indomaret. Tapi sayang, tidak ada label harga. Aku menimang-nimang, lalu akhirnya membeli produk lain yang ada tulisan harganya. Begitu sampai di kasir, aku tertegun melihat persediaan kurma di sampingku. Aku pun berlari mengembalikan kacang ke rak semula. Aku kembali mempertimbangkan apakah beli kurma lebih baik daripada kacang. Sambil melihat mana yang paling murah, aku berpikir cukup lama tentang gizi dalam kurma.

Kurma adalah buah yang kering. Tidak seperti pisang yang harus langsung dimakan kurang dari seminggu, kurma bisa disimpan dalam suhu ruang dengan baik. Dengan harga yang sama dengan kacang pun, aku merasa kurma akan lebih lama habisnya karena cukup makan satu langsung terasa kenyang. Kurma juga manis. Aku tidak bisa makan banyak makanan manis dalam satu waktu. Dengan berbagai pikiran seperti itu, aku memutuskan untuk beli kurma. Yey. Aku harap bisa awet paling tidak dua minggu. Dengan begini, kan, aku bisa berhemat. Hahaha. Bayangkan jika aku beli cemilan asin yang kusuka. Biasanya dalam sehari akan ludes tanpa sisa. Tidak tidak, setengah jam pun bisa. Sesenang itu lah aku ketika makan cemilan. Jariku mampu untuk mengambil cemilan dan menyuapi mulut tanpa menunggu perintah dari otak dahulu. Ketika aku sadar, hanya tersisa bungkusnya saja.

Sebenarnya sudah lama aku ingin membeli cemilan buah kering yang banyak dijual di toko daring. Tapi aku merasa harga yang ditawarkan terlalu mahal. Tentu dalam standar pribadiku. Aku pun memilih minum air jika begitu. Sangat pilih-pilih, ya? Menurut diriku, lebih baik membeli sesuatu yang masih terjangkau atau tidak sama sekali. Tidak ada gunanya memaksakan diri membeli sesuatu yang ada di luar jangkauan keuangan pribadi. Bisa repot nanti di masa depan. Menolak rasa yang pernah kamu coba itu lebih berat.

Apa yang penting untukku saat ini adalah kesehatan. Tidak berlebihan makan makanan dan cemilan adalah salah satunya. Aku tidak mau terkena penyakit yang diakibatkan pilihan makanan yang buruk ketika muda. Makanan baik juga bukan lah makanan yang mahal. Cukup perhatikan nilai gizi dan jumlah yang pas. Telor adalah salah satu makanan super yang tersedia dalam harga merakyat.

Seharusnya jika semua makanan yang masuk adalah baik dan tidak berlebihan, maka tubuh juga akan bekerja dengan baik pula. Kalau tiba-tiba ada muncul jerawat, gatal-gatal, sakit perut, atau lainnya ketika makan sesuatu, dapat dipastikan itu alergi. Jika ada kesempatan untuk berkunjung ke dokter demi memastikan alergi, tentu lebih afdol. Pencetus alergi lebih baik dihindari. Tentu demi tidak merepotkan tubuh yang berusaha keras untuk membuang zat-zat tidak berguna dari makanan untuk kita. Bagaimanapun, organ tubuh kita tidak bisa seenaknya diganti dan diperbaiki seperti suku cadang elektronik.

Hari Biasa atau Hari Buruk?

A hundred bad days make a hundred good stories. A hundred good stories make me interesting at parties.

-- AJR


Di hari Rabu yang datang setelah hari Selasa, apa ada yang spesial? Ada, tentu, tapi apakah itu membuat hari ini menjadi luar biasa? Sepertinya masih bisa didebat. Banyak hal yang terjadi hari ini. Aku merasa pikiranku ditiup berkali-kali.

Ada banyak cerita yang aku baca dari Reddit. Bukan cerita fiksi, melainkan kisah nyata. Ada pertanyaan yang berisi begini, “Insiden apa yang membuatmu sadar kemanusiaan sudah rusak?” Pertanyaan yang banyak mengundang jawaban. Jawaban paling banyak justru adalah, “Ketika aku bekerja di retail.”

Banyak komentar menyetujui. Salah satu jawaban yang kuingat adalah ketika toko mereka sedang mengadakan diskon 50% untuk semua barang. Konsumen yang tidak paham mengira harga dua barang seperti harga yang lama, dan mereka marah karena merasa ditipu. Aku sempat berpikir lama sebelum menertawakan insiden ini. Ya, mereka lupa kalau toko itu sedang diskon 50%. Tentu saja harga yang mereka lihat sama karena mereka ambil dua.

Komentar terbanyak lainnya adalah ketika menjadi CS alias Customer Service (Layanan Pelanggan), khususnya di bidang IT. Banyak petugas IT yang berkendara ke sana ke mari cuma buat mencolok steker ke stop kontak. Masalah terbanyak datang ketika ada bagian komputer yang belum dicolok ketika digunakan. Aku sempat teringat, ini juga pernah kejadian kepadaku. Zaman dulu ketika zaman komputer dan CPU masih jaya, aku sangat sulit memahami konsep CPU. Aku ingat beberapa kali kebingungan kenapa komputernya tidak menyala, padahal layar monitor sudah terang benderang. Lantas aku sering menyusahkan orang-orang di sekitar yang seringkali hanya menekan tombol di CPU untuk membuat komputer nyala. Kalau dipikir-pikir, aku cukup beruntung karena tidak perlu menelepon CS dari perusahaan IT demi menyelesaikan masalahku. Atau aku akan sangat malu nanti.

Aku juga menonton dua variety show hari ini. Queendom musim pertama dan Mom’s Diary episode 280. Aku terpesona dengan kata-kata Park Bom kepada Hyojung, leader Oh My Girl. Mereka berdua menjadi satu tim untuk pertarungan babak ketiga Queendom, unit vokal. Mereka akan menyanyikan lagu Lee HI yang berjudul “Scarecow” atau “Orang-orangan Sawah”. Di sini lah lahir kata-kata Park Bom yang kira-kira begini, “Sendiri itu sulit. Semua orang punya masa sulit itu.” Hyojung juga bilang kalau dia terbiasa untuk membuat orang menyukai dirinya sejak kecil. Maka tak heran jika dia selalu membuat semua hal terdengar baik-baik saja. Ada banyak momen yang membuatnya merasa sendiri. Kemudian dia menangis. Huhuhu, aku dapat mengerti perbincangan keduanya. Aku bukan sesama penyanyi, tapi aku setuju semua orang punya masa sulit mereka masing-masing. Dan tak jarang kita masih terluka akan hal itu. Aku juga menangis mendengar kata-kata Hyojung. Itu lah kenyataan di dunia. Orang-orang tidak suka melihatmu menangis. Mereka berharap kamu selalu terlihat baik-baik saja. Karena mereka tidak ingin mengakui bahwa mereka juga tidak baik-baik saja.

Di episode 280 Mom’s Diary, ada tiga cerita anak nakal yang ditampilkan. Pertama, Siwon, Wonhee, dan keponakan Siwon, Kim Min. Kim Min adalah seorang gadis berusia 8 tahun. Dia lucu banget di acara ini. Karena sedang masa pertumbuhan, 6 giginya copot sekaligus ketika dia sedang menggosok gigi. Gigi depannya ompong. Sangat lucu melihatnya. Cerita kedua adalah Sangmin dan Siwon yang sedang menginap di rumah Namyoung. Sedangkan Namyoung menginap di rumah Sangmin. Kalau nonton episode sebelumnya, pasti kamu sudah tahu bahwa rumah Namyoung benar-benar unik.

Di episode hari ini Sangmin makan kacang almond. Tapi, Siwon yang curiga melihatnya lamat-lamat, kemudian menemukan bungkus coklat isi kacang almond yang terbuka dan sudah habis. Mereka berdua bertatapan penuh curiga. Semua orang di studio jauh lebih kaget lagi. Aku yang sudah tahu tidak bisa tidak tertawa melihat kekacauan ini. Sangmin menelepon Namyoung untuk memastikan, apakah benar dugaan Siwon. Dan, ternyata beneran dong kacang almond yang Sangmin makan itu ternyata aslinya isian coklat. Coklatnya dimakan Namyoung karena giginya sudah tidak kuat, sedangkan kacang almond -- yang sudah pasti terkena seluruh penghuni mulutnya -- dia kumpulkan di dalam plastik dan tidak dibuang. Ya Allah! Semua orang menggila setelah mendengar ini. Kebayang ngga, sih, makan kacang almond sisa emutan orang lain tanpa sengaja?

Cerita ketiga adalah ketika Heechul kedatangan tamu para eksekutif Mom’s Diary. Ada ketua Joonho, wakil ketua Sangmin, dan sekretaris Kim Jongmin. Mereka bertiga ingin membantu Heechul berubah di usianya yang sudah menanjak 40 pada tahun ini. Dia memang belum ulang tahun pada tahun 2022, tapi banyak orang Korea menandai pertambahan umur sejak tahun baru tiba.

Apa sih yang Heechul ingin ubah dari dirinya? Dia ingin merasa lebih santai. Heechul mengidap mysophobia, yaitu ketakutan berlebihan kepada kotoran. Rumah Heechul sangat bersih. Dia bahkan tidak pernah makan di atas kasur dan sofa. Ketiga orang yang baru datang ini memberi Heechul shock therapy agar dapat lebih cepat terbiasa dengan skenario sehari-hari yang mungkin akan terjadi di masa depan. Mereka selalu bilang Heechul tidak bisa menikah jika dia terlalu sensitif soal ini. Atau jika dia menikah, mungkin mereka akan bercerai karena alasan yang sangat remeh. Aku merekomendasikan untuk menonton langsung agar tahu apa saja yang mereka lakukan. Karena aku tidak sanggup menahan tawa saat menuliskannya.

Melihat bagaimana orang lain menjalani hari-hari mereka membuat hariku tampak seribu kali lipat lebih membosankan. Aku punya kecenderungan seperti ini, lebih tertarik dengan orang lain daripada diri sendiri. Aku harus bagaimana? Sebenarnya aku sering merasa aku sudah menyerah atas diri sendiri. Tapi aku selalu menolak perasaan itu dan menguburnya dalam-dalam. Aku adalah Hyojung yang selalu membuat apa yang kurasakan terdengar normal dan baik-baik saja.

Ada kutipan yang kutemukan di Reddit tadi.

A hundred bad days make a hundred good stories. A hundred good stories make me interesting at parties.

-- AJR

Artinya begini, “Seratus hari buruk membuat seratus cerita bagus. Seratus cerita bagus membuatku menarik di pesta.”

Aku melihat banyak orang yang terhibur dengan komentar itu. Manusia memang menyebalkan, tetapi cara pandang di atas membuat kita dapat melihat ada hal lain yang akan kita dapatkan dari hari buruk. Kutipan itu juga membuatku berpikir, “Yah, ada benarnya juga.” Selama ini aku terlalu berfokus kepada “Kenapa aku selalu mengalami hal ini?” Ternyata apa yang kualami mungkin akan membuatku terlihat sebagai orang yang menarik, karena aku punya banyak cerita bagus. Aku sangat menyukai kutipan ini. Aku akan berusaha mengingatnya ketika hal-hal buruk terjadi. Dengan begitu, aku akan dapat lebih menikmati apa yang aku lakukan sehari-hari. Yah, semoga saja, ya.

Ketidakyakinan

Hari ini tanggal 22/02/2022. Orang-orang bilang hari ini adalah “Twosday”, karena jatuh pada hari Selasa (Tuesday) dan ada angka 2 yang ditulis enam kali. Katanya tanggal ini tidak akan terjadi lagi. Ada juga yang bilang paling lambat akan terjadi 400 tahun mendatang. Tampaknya adalah hari yang spesial dan bisa menjadi alasan untuk merayakan sesuatu. Tapi mungkin bukan untukku.


Aku banyak melihat hal yang mengerikan hari ini. Aku tidak tahu kenapa aku merasa hal itu mengerikan. Aku menemukan ada orang-orang yang merasakan hal yang sama. Aku juga menemukan orang-orang yang tidak merasa begitu. Dunia ini memang sangat beragam dan unik. Tidak mungkin apa yang aku rasakan dapat dirasakan oleh semua orang. Faktor utamanya adalah karena kami melihat hal yang berbeda.

Aku melihat berita. Dia melihat acara televisi yang meributkan iPhone selebritas. Dia sibuk main game. Dia hanya fokus melihat motor yang datang. Dia melihat makanan yang dia buat. Dia melihat orang-orang yang berjalan. Dia melihat awan. Dia melihat kucing-kucing malang yang mencari makan. Dia membaca buku lama. Dia sibuk melihat topik hangat di Twitter. Ada sekitar 7 miliar dia lainnya yang sedang melihat hal yang bisa saja berbeda denganku.

Wah, tapi kenapa rasanya ada yang tidak beres… Aku tidak merasa baik-baik saja dalam artian, aku merasa sesuatu akan datang dan mungkin kembali mengubah jalan cerita hidupku. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Bukan tidak tahu, tapi lebih ke tidak yakin. Aku tidak yakin apa yang selama ini aku lakukan sudah betul. Aku tidak yakin apa aku harus meneruskan semua ini. Aku merasa aku harus menemukan petunjuk lain untuk menyelesaikan potongan besar sebuah puzzle yang tiba-tiba diberikan kepadaku. Bagaimana caranya? Itu yang tidak aku tahu.

Kepalaku menjadi berat ketika mencoba mencari tahu terlalu banyak hal. Aku memang bukan detektif Sherlock Holmes, tapi aku merasa aku harus mengetahui beberapa hal lagi sebelum melanjutkan apa yang sudah aku lakukan. Semua ini sangat membingungkan diriku. Perutku kemudian menjadi lapar karena merasakan tekanan yang hebat. Mataku merasa sulit untuk memusatkan perhatian di satu tempat. Seakan-akan aku sedang dalam perjalanan yang jauh dan sudah berjalan selama tiga puluh menit dengan barang bawaan yang menyakiti punggung. Sekarang aku sedang berjalan sempoyongan dan tidak tahu harus berjalan ke mana. Aku tidak yakin harus bagaimana.

Aku hanya tahu beberapa hal pasti. Aku terjebak dalam naskah hidup yang terlihat mencolok untuk saat ini. Aku banyak merasakan sesuatu, tapi aku tidak tahu perasaan apa saja yang muncul itu. Aku juga harus berhati-hati. Aku cenderung ceroboh, jadi aku merenung lama hari ini. Paling tidak, aku berhasil menahan diri. Aku berhasil bertahan menghadapi kemungkinan yang tidak ingin aku hadapi. Tapi kepalaku justru terasa sakit. Aku jadi harus menuliskan kata-kata yang mungkin akan terlihat konyol bagi pembaca yang iseng membaca kiriman ini. Maafkan aku.

Mungkinkah aku harus bersiap? Tapi aku memang sudah banyak melakukan hal itu. Pertanyaannya, untuk apa lagi aku harus bersiap? Apa ada hal lain yang harus aku siapkan? Ya Allah, apa lagi? Aku merasa ada lubang aneh yang membuatku penasaran seperti itu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Siapa yang harus aku percaya kali ini? Bukankah semua orang membawa kepentingan bagi dirinya sendiri? Bukankah semua orang yang katanya bebas itu tetap terikat pada banyak hal di dunia? Kenapa juga aku harus repot bertanya seperti itu? Aku tidak merasa akan menyelamatkan dunia, karena aku sendiri masih harus menyelamatkan diriku. Tapi entah mengapa, aku merasa aku bertanggungjawab dan harus melakukan sesuatu. Hanya saja, aku menahan diri kali ini. Aku merasa tidak mungkin apa yang aku lakukan tidak akan punya akibat. Semua hal berhubungan dengan sebab dan akibat. Ya, aku harus berhati-hati. Walaupun ini semua membuatku frustrasi.

Aku punya banyak rencana, sebenarnya. Tetapi, ya, akhirnya kembali terganggu oleh macam-macam hal yang aku lihat hari ini. Mungkin saja memang bukan hariku, ya? Tentu saja hari ini adalah milikku dan milik semua orang, hanya saja aku tidak mampu melakukan semaksimal rencanaku tadi pagi. Sungguh mengecewakan, tetapi apa boleh buat. Kekacauan bukan hal yang baru bagiku. Berusaha memahami adalah hal yang harus aku teruskan untuk saat ini. Ya, mungkin begitu. Mungkin ini lah yang harus aku lakukan. Belajar memahami. Sepertinya aku tahu mengapa aku sangat gelisah. Aku merasa kacau dan bingung karena tidak tahu aku harus memahami apa saja.

Ngobrolin Bunga Daffodil (Narcissus)

Kalau dengar bunga, biasanya aku lebih sering dengar bunga mawar. Bentuk bunga yang aku tahu juga cuma mawar. Mawar merah, biru, putih. Suatu hari aku ingin mencari foto baru untuk foto profil. Jadi lah aku iseng cari “bunga Jepang apa aja” di Duck Duck Go dan klik situs pertama. Gambar kedua adalah bunga Daffodil yang berasal dari genus Narcissus.


Bunga daffodil cr: Henry Hartley

Cr: Henry Hartley

Daffodil hanya berbunga saat musim semi. Di banyak negara, daffodil kebanyakan memiliki arti keberuntungan dan suka cita. Di China sendiri, bunga daffodil selalu mekar saat tahun baru Imlek. Maka bunga ini menjadi simbol resmi saat hari Imlek tiba.

Pernah dengar bunganya para sastrawan? Di Inggris, para sastrawan banyak yang menyukai daffodil. Salah satu nama besar yang mencolok adalah William Shakespeare. Di sastra Persia, bunga daffodil dikatakan mirip dengan mata cantik. Walaupun ada jenis dari Narcissus yang diasosiasikan dengan buka kematian karena bentuknya yang menunduk, lebih banyak jenis Narcissus yang dicintai orang-orang di banyak negara. 1

Dari mitologi Yunani, Narcissus dikaitkan dengan seorang lelaki tampan yang jatuh cinta kepada dirinya sendiri karena ketampanannya. Ada sebuah syarat atas ketampanan dan keabadian Narcissus, dia tidak boleh melihat bayangan diri sendiri. Suatu hari Narcissus sedang berburu dan Echo yang seorang peri jatuh cinta kepadanya. Tapi Narcissus menolak cinta Echo hingga Echo bersedih dan yang tersisa hanya suaranya. Dewi Nemesis marah dan memikat Narcissus ke depan danau. Saat itu lah, Narcissus tidak tahan melihat bayangan diri sendiri dan jatuh cinta. Tetapi dia akhirnya mendapat hukuman dan langsung menghilang tanpa jejak. Tempat dia berdiri dekat danau tumbuh bunga yang akhirnya dikenal sebagai bunga Narcissus.2

Daffodil untukku sendiri adalah jatuh cinta pada pandangan pertama. Bentuk kelopak yang melekuk cantik dan memiliki warna terang benderang amat tampak indah bagiku. Daffodil lebih terlihat indah jika difoto dari tengah, jadi bagian pusat bunga (apa namanya?) tampak seperti memiliki tinggi yang sejajar dengan kelopak bunga. Bunbga daffodil banyak yang berwarna putih, oranye, dan kuning. Jika sudut pandangnya tepat, entah difoto sendiri ataupun berkelompok, bunga daffodil akan terlihat sama indahnya.

Aku cari-cari, di Indonesia katanya memang jarang ada bunga daffodil. Jadi sepertinya tidak aneh ya kalau aku baru tahu juga? Selain bunga mawar, aku kadang dengar bunga anggrek, tapi bentuknya aku tidak tahu. Tadinya aku kira Narcissus itu bahasa Indonesianya adalah bunga anggrek, tetapi aku teringat bunga anggrek katanya adalah pinang yang butuh induk. Haha, begini lah kalau ngga ingat pelajaran pas SMP dulu. Jika diterjemahkan ke penerjemah daring, yang tertulis malah bunga bakung. Tapi, aku sudah cek, genus bunga bakung bukan Narcissus.

Saat ini aku memasang foto bunga daffodil sebagai latar belakang dekstop. Aku sempat baca bahwa bunga ini memiliki efek penenang jika digunakan untuk keperluan medis. Tapi buatku sendiri, cukup memandang foto indah bunga daffodil juga sudah membuatku merasa tentram. Entah lah, ada keindahan yang tidak bisa aku jelaskan lebih lanjut. Tapi aku tahu aku sangat menyukai foto bunga daffodil kapanpun aku melihatnya.

Mari, aku tunjukkan foto-foto lainnya.

Bunga daffodil cr: Gardening Know How

Cr: Gardening Know How

Bunga daffodil cr: Dallas Arboretum

Cr: Dallas Arboretum

Bunga daffodil cr: Caribbean Garden Seed

Cr: Caribbean Garden Seed

Bunga daffodil cr: Courtney Weber di Patheos

Cr: Courtney Weber di Patheos

Bunga daffodil cr: Darius Rad

Cr: Darius Rad

Itu dia beberapa foto bunga daffodil yang aku suka. Untuk saat ini aku paling suka dengan foto terakhir. Bikin rileks banget melihat foto itu di layar besar.

Ngobrolin "Closer", lagu Oh My Girl

Oh My Girl adalah salah satu grup wanita di Korea Selatan. Mereka sudah debut sejak tahun 2015. Oh My Girl beranggotakan 7 orang, dengan rentang umur dari kelahiran 1994 hingga 1999.


Dari sekian banyak lagu Oh My Girl yang banyak didengarkan orang, aku masih paling suka dengan lagu mereka di tahun-tahun awal karier, yaitu “Closer”. Lagu ini punya kesan yang kuat. Baik dari lirik, musik, hingga suara para member yang menyanyikan. Tarian untuk musik ini juga sangat adiktif untuk dilihat. Andai aku bisa menari, akan aku tiru tarian lagu ini setiap hari.

“Closer”, ketika aku pertama mendengarnya, memberi kesan misterius yang kuat. Namun suara para member Oh My Girl memberi sentuhan yang manis. Jujur, kadang aku masih suka merinding ketika mendengar lagu ini. Meskipun aku tidak tahu arti lirik “Closer”, dan hanya bisa mengerti lirik “Can you hear me cry?”, aku tidak pernah bosan untuk mengakuinya sebagai salah satu lagu favorit.

Kebetulan, beberapa waktu yang lalu aku kepikiran lagu ini. Dengan semangat aku nyanyikan “Closer” dengan lirik yang amburadul. Karena penasaran, aku pun membuka aplikasi alternatif Youtube, NewPipe, untuk mencari lagu “Closer”. Hasil paling awal adalah video tarian Oh My Girl untuk lagu “Closer” dengan latar belakang pepohonan yang diterpa sinar matahari. Kedelapan member menggunakan pakaian berwarna putih yang sangat cocok dengan konsep misterius sekaligus anggun yang kurasakan dari lagu ini. Aku bilang delapan member, karena mantan member yang keluar karena alasan kesehatan, Jin-E, masih ada di era “Closer”.

Aku tidak begitu hapal video musik “Closer” yang asli. Jadi saat melihat video versi pertunjukkan tarian, aku benar-benar terkesan. Aku sangat menyukai ekspresi wajah Oh My Girl. Dingin, namun tertimpa sinar matahari. Wah, bagaimana aku menjelaskannya dalam kata-kata, ya?

Dari situ, aku menjadi tertarik menonton video musik lain Oh My Girl. Aku menonton “Nonstop”, “Dun Dun Dance”, dan “The Fifth Season”. Terakhir, aku menonton “Secret Garden” versi “Queendom” yang baru mereka tampilkan di konser K-CON:TACT 4 U sehari yang lalu.

Wah, aku baru tahu mereka tampil di Queendom. Tak lama aku pun menonton episode pertama Queendom. Hahaha. Oh My Girl tampak sangat cantik di acara tahun 2019 itu.

Aku berharap, Oh My Girl akan menampilkan “Closer” juga di Queendom. Jika sudah ada yang menonton, tolong jangan beri aku spoiler, ya. Penampilan Mamamoo dan Park Bom saja sudah membuatku merinding. Sungguh tidak sabar menantikan penampilan Oh My Girl di episode selanjutnya.

Dengar-dengar, dan aku lihat juga, konsep lagu Oh My Girl yang paling dekat dengan “Closer” adalah “Secret Garden” dan “The Fifth Season”. Keduanya sama-sama memberi kesan anggun yang misterius. Tetapi, “Closer” tetap menjadi juara bagiku. Aku sangat suka semua aspek dari lagu ini, walaupun sampai detik ini aku tidak juga mencaritahu arti lirik lagu “Closer”. Ya, mencintai tidak harus mengenal, kan? Eh, tentu berbeda jika konteksnya mencintai anak manusia.

Edit:
Bagi siapapun yang mau lihat versi "Closer" tahun 2021:

Isi Kepala mirip Isi Tahu

Tahu isi, adalah salah satu produk gorengan abang-abang hingga ibu rumah tangga yang enak dimakan panas-panas. Tahu isi tidak menyenangkan rasanya ketika dimakan mendekati masa basi. Selain dingin dan tidak menyebarkan bau yang membuat nafsu makan memuncak, isi tahu juga terlihat lengket, ada jaring-jaring laba-laba saat dipotek, dan ketika sampai di lidah, rasa yang dikecap bukan lagi asin gurih, melainkan anyep dan maaf, menjijikkan.


Isi tahu isi ini biasanya adalah sayuran yang terdiri dari wortel dan toge. Mungkin ada lagi beberapa variasi, tetapi aku sering menemukan versi itu. Selain murah, wortel dan toge mempunyai tekstur yang lebih keras daripada tahu yang lembut. Kombinasi keras dan lembut yang dibalut tepung goreng ini lah yang membuatnya istimewa. Tapi, sekali lagi, isi tahu ini juga yang menjadi bumerang bila tahu isi kelupaan dimakan atau sengaja disimpan untuk keesokan harinya tapi tidak ditaruh di kulkas. Tahu goreng yang disimpan lama--sekitar 24 jam--di udara terbuka biasanya akan baik-baik saja, paling hanya terasa dingin. Isi di dalamnya lah yang membuat lidah dan lambung kita frustrasi.

Melihat isi tahu yang dapat memengaruhi tahu yang terlihat baik-baik saja, mengingatkanku kepada isi otak sendiri. Otak, seperti banyak kata ilmuwan, adalah organ terpenting dari tubuh manusia. Jika otak kita mati, kita tidak bisa hidup. Dengan perbandingan seperti itu, jika otak kita berisi hal-hal yang sudah tidak baik yang disimpan terlalu lama; sama seperti tahu isi, menyebabkan otak kita jadi bau dan lengket. Tentu, aku tidak sedang bicara secara harfiah. Jangan sampai ada yang berpikir aku membelah otak sendiri untuk memastikan hal ini.

Intinya adalah, jangan sampai hal-hal buruk berdiam untuk waktu yang lama di otak kita. Isi tahu yang tadinya bagus, dapat mengubah tahu yang tadinya enak menjadi basi karena didiamkan kelamaan. Bukan berarti kita mesti menghalalkan boraks agar tahu isi awet. Bukan, intinya bukan itu. Isi tahu ini punya masa berlaku yang terbatas, sama seperti isi otak yang terkadang harus kita perbarui atau segarkan dengan belajar agar kita tidak berjalan di tempat. Isi otak yang tidak berguna lagi layaknya isi tahu yang sudah tidak bisa dimakan. Hal-hal jelek di dalam otak dapat memengaruhi keseluruhan tubuh, bahkan hidup kita. Setiap hari, menurutku penting untuk melihat kembali dan menilai apa saja yang kita lakukan di hari itu. Dengan begitu, kita bisa membuang isi pikiran yang buruk dan menyiapkan tempat untuk isi pikiran yang lebih baik di esok hari.

Isi otak yang buruk, sebenarnya seperti apa? Berita gosip tentang artis, isi iklan investasi bodong, bacaan dan tontonan yang tidak patut, niat jahat yang muncul dari bisikan setan yang sering disalahpahami sebagai bisikan dari diri sendiri. Jika otak terlalu sering menerima stimulus yang kurang baik, maka selanjutnya akan memengaruhi isi hati. Selain isi otak, isi hati juga dapat berpengaruh besar terhadap kehidupan kita, lho.

Isi hati yang buruk, contohnya bagaimana? Iri, dengki, dendam, marah dan kecewa yang berlebihan, terlalu merendahkan diri sendiri, adalah beberapa isi hati yang harus diperiksa secara berkala. Periksa dulu, maka akan lebih mudah untuk mengurai isi hati dan menanyakan diri sendiri mengapa perasaan itu bisa muncul. Kadang, bahakn sering, setan suka ikut campur. Jangan sampai tertipu dan terbawa bisikan aneh yang muncul dengan suara hatimu. Jika sudah sanggup, baru lah kita buang isi hati yang jelek itu, agar kemudian bisa diisi dengan hal-hal baik nantinya.

Bagi umat Islam, dapat mencoba melakukan isi pesan lagu “Tombo Ati” yang erat kaitannya dengan Sunan Bonang, salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam (sumber). Baca Al-Qur’an dan maknanya, mendirikan solat malam, berkumpul dengan orang soleh, perbanyak berpuasa, memperpanjang dzikir malam. Menjalani salah satunya, InsyaAllah dapat memberikan ketenangan hati.

Seringkali, punya hati yang tenang jauh lebih mendamaikan otak ketimbang hati yang selalu gelisah. Belajar nrimo dan legowo akan menjadi life skill alias keahlian hidup yang mahal. Mampu memaafkan diri sendiri dan orang lain (dan hewan) juga tidak mudah. Tetapi baru berniat untuk melakukannya saja sudah merupakan langkah yang baik. Ambil langkah bayi. Maksudnya, tetap melangkah meskipun langkah itu kecil dan sulit. Jangan sampai isi kepala dan isi hati kita sama seperti isi tahu yang sudah tidak layak dimakan dan menyebabkan sakit perut jika tetap keras kepala bahwa itu masih bisa dimakan.

Masa Lalu adalah Ilusi

Ketika aku sedang menghapus seluruh kirimanku dari Facebook, aku juga melihat bagaimana diriku di masa lalu bertindak. Aku juga dapat melihat reaksi orang-orang yang dulu masih berinteraksi denganku di sana. Aku memperhatikan beberapa hingga aku sampai di sebuah kesimpulan: masa lalu adalah ilusi. Aku yang sekarang bukan lah aku di masa lalu. Mungkin aku pernah menjadi dia, tetapi dia bukan aku. Itu yang aku rasakan.


Alasan sebenarnya adalah aku melihat betapa berbedanya diriku dengan aku di masa lalu. Jika kalian menilai aku yang sekarang dengan apa yang aku perbuat di masa lalu, aku akan sangat keberatan. Banyak hal yang tidak bisa kumengerti dari perbuatanku di masa-masa itu. Tunggu, apa aku di esok hari juga akan mengatakan hal yang sama? Atau malah membuat kesimpulan yang jauh berbeda?

Bicara soal waktu, aku sempat membaca bahwa film “Tenet” menggambarkan bagaimana waktu itu berjalan. Ada komentar yang beriringan dengan rekomendasi film itu yang membuatku terganggu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan sebenarnya berjalan seiringan. Hah? Ya, sulit dimengerti. Aku sendiri belum menonton, jadi tidak bisa banyak komentar. Tapi kejadian yang kualami ketika menghapus konten Facebook agaknya membuatku sedikit mengerti mengapa orang itu bilang begitu.

Jujur, beberapa detik yang lalu aku kembali membaca paragraf di atas dan sudah merasa bahwa aku mirip orang gila yang bicara tak karuan. Dipikir-pikir, memang tidak masuk akal. Orang itu juga menyinggung seperti itu, konsep ini sulit dipahami. Manusia diajarkan sejak kecil bahwa konsep waktu itu berjalan ke depan. Tidak pernah kudengar sebelumnya soal waktu yang berjalan beriringan. Menonton “Interstellar” saja sudah membuatku pusing, meskipun aku suka genre film yang tidak biasa seperti itu.

Aku juga punya alasan lain. Entah kenapa, aku banyak melupakan apa yang aku lakukan di masa lalu. Aku sudah menyadari soal ini ketika mulai kuliah. Aku hanya bisa mengingat hal-hal yang membuatku terkejut dan meninggalkan kesan yang kuat. Aku bahkan tidak bisa ingat wajahku sendiri. Ketika aku melihat data lama di Facebook, aku kaget bukan kepalang. Aku tidak menyangka banyak melewatkan hal, ataupun terlalu memperhatikan beberapa hal yang sebenarnya menurut aku yang sekarang, tidak penting. “Kenapa aku begini?” atau, “Ini beneran aku?” memenuhi segenap isi kepalaku pada pagi buta itu. Tak jarang juga aku menyesali beberapa keputusan dari aku di masa lalu. Di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa aku sudah banyak berubah dan belajar banyak hal. Namun, ada juga kok hal-hal baik yang terjadi di masa lalu. Aku bertekad untuk melakukan hal baik itu lagi sekarang. Salah satunya, ya, menulis seperti ini. Sangat menyenangkan untuk mengetahui pikiranku di masa lalu melalui celotehan alay dari status Facebook. Meskipun aku yang sekarang bukan aku yang dulu, tapi kami masih punya beberapa kesamaan. Entah itu adalah hal yang baik atau buruk, tulisan yang kubuat dapat menyegarkan kembali ingatanku yang semakin terbatas dimakan usia.

Tentu, tulisan ini sangat membingungkan untuk diresapi dalam-dalam. Tenang, kamu tidak sendiri. Kamu mungkin adalah aku di masa depan. Apakah kamu juga menganggap aku alay? Tidak masalah sebenarnya jika aku dianggap begitu. Yang penting kamu tidak mengulangi kesalahan yang masih aku lakukan hingga detik ini dan mengambil pelajaran.

Masa lalu atau masa depan itu tidak akan mengubah apa-apa. Bagaimana aku tetap berusaha untuk melakukan apa yang aku bisa pada masa kini tetap jadi yang terpenting. Karena seperti yang kamu tahu, kamu tidak bisa mengubah masa lalu atau masa depan. Akan tetapi, kamu bisa mengubah hari ini. Ya, kamu masih bisa.

"degoogle"?

Akhir-akhir ini aku sedang menyibukkan diri untuk mengikuti tren “deGoogle”. DeGoogle adalah gerakan orang-orang yang khawatir atas privasi mereka untuk melepaskan diri dari sebagian besar atau bahkan seluruh layanan Google. Mereka akan mengganti layanan Google dengan layanan lain yang bersifat Open Source, yaitu menyediakan sumber kode yang terbuka bagi publik.


Seperti yang dunia ketahui, Google bisa dibilang hampir memonopoli pasar teknologi dunia. Mesin pencarian, iklan, surat elektronik atau email, layanan peta, penyimpanan awan, pembagian video, penyimpanan foto,hingga sistem operasi Android yang diinstal banyak pengusaha ponsel di produk mereka. Yang tidak banyak orang ketahui adalah Google banyak mengumpulkan data para pengguna agar dapat dijual kepada perusahaan iklan. Gerakan deGoogle didasari oleh keinginan orang-orang untuk melindungi data pribadi mereka di internet. Entah itu dengan meningkatkan penjagaan privasi atau menjadi anonim, menggunakan identitas lain untuk menutupi identitas asli. Namun demikian, apakah mungkin untuk melepaskan diri dari itu semua?

Aku sendiri tampaknya terlalu terobsesi dengan gagasan di atas. Selama ini aku tahu bahwa Google memang banyak memata-matai para pengguna mereka di seluruh dunia. Tapi aku tidak begitu kepikiran hingga aku membaca dan mengetahui lebih dalam soal degoogle. Sangat menyeramkan begitu tahu bahwa apapun yang aku lakukan terekam datanya di ponsel yang kugunakan. Siapapun yang kuhubungi lewat surel dan nomor telepon dapat diakses oleh pihak ketiga. Menurutku hal ini sangat gila. Model bisnis Google memang menyediakan layanan gratis, tetapi sebagai gantinya mereka merusak privasi banyak orang.

Aku sudah mencoba beberapa hal. Menghapus seluruh surel yang ada di Gmail agar Google tidak dapat menggunakan dataku adalah salah satunya. Meskipun aku tidak tahu apakah data itu benar terhapus atau masih bisa mereka akses, aku tetap melakukannya. Aku berhasil menghapus 132.037 pesan. Luar biasa. Sebagian besar adalah email spam dan berbagai jenis layanan yang aku beri alamat emailku.

Dahulu, awal-awal aku kenal internet, aku memang suka asal memasukkan alamat email di berbagai situs yang meminta untuk memasukkan email. Aku masih lugu dan tidak tahu soal penjualan data pribadi di internet ternyata sangat menguntungkan. Aku juga memasukkan nama asli dan alamat rumah, bahkan nomor telepon. Aku merasa sedang dalam masalah besar ketika mengingat kebodohan diriku di masa lalu. Maka dari itu, aku terlalu bersemangat hingga tanpa sadar begadang dan tidur tidak teratur. Jika kalian akan mencoba juga, ingat lah kalian bisa melakukannya pelan-pelan. Ambil langkah bayi. Jangan bodoh seperti aku yang mengorbankan kesehatan demi privasi di internet.

Aku berhasil menghapus beberapa data akun yang kupunya dari beberapa situs. Tapi situs yang aku daftarkan dengan email dan data pribadi itu terlalu banyak. Aku hanya sanggup menghapus beberapa sampai saat ini. Melakukan degoogle lebih santai sepertinya akan jauh lebih baik bagi diriku sendiri.

Ya, menghapus akun dari berbagai situs adalah hal yang paling merepotkan bagiku. Selain itu, menghapus lokasi yang direkam oleh Google Maps. Jika menghapus otomatis, kita hanya bisa menghapus maksimal sampai data 3 bulan yang lalu. Jadi kita masih harus menghapus lokasi selama tiga bulan secara manual. Beneran, deh, capek betul menghapus satu-satu. Masih ada lagi, yaitu komentar, like, dan riwayat menontonku di Youtube. Jujur, aku kesal karena itu tidak bisa dihapus dengan otomatis, semuanya harus manual. Sungguh nggilani. Aku memutuskan untuk membiarkan Youtube untuk saat ini.

Imbas dari berusaha melakukan degoogle adalah aku harus mencari pengganti layanan yang bersumber terbuka dan kalau bisa menyediakan layanan gratis. Tentu, kalau aku sudah berpenghasilan aku ingin menyumbang beberapa untuk para pengembang aplikasi tersebut, tetapi aku tidak punya opsi itu untuk saat ini. Aku sendiri sudah menemukan berbagai macam aplikasi pengganti. Mesin pencarian diganti dengan Duck Duck Go, browser dengan LibreWolf dan Waterfox--meskipun aku masih pakai Opera GX yang bukan *Open Source* karena menurutku masih efisien, aplikasi catatan dengan StandardNotes, blog dengan Listed. Aku sudah pasang NetGuard di ponsel yang kupinjam agar dapat mencegah aplikasi mengirimkan data dengan internet ketika tidak digunakan.

Belum lama ini aku menemukan sesuatu yang bernama Techlore. Kubaca-baca, sepertinya Techlore menyediakan cara lain untuk menghapus jejak yang bersifat privasi di internet. Namun, tidak seperti DeleteMe yang menawarkan jasa menghapus data, di Techlore data harus dihapus manual. Mereka hanya menyediakan materi yang harus dipelajari. Aku akan memeriksa mereka nanti. Sekarang aku fokus untuk menenangkan diri, berhubung aku juga sudah banyak menghapus di sana-sini.

Kalau boleh aku jujur, melakukan itu semua selama hampir seminggu sudah membuat kepalaku pecah. Mungkin karena aku gampang paranoid, jadi berhari-hari aku terobsesi menghapus data pribadi dari internet. Aku baru menyadarinya akhir-akhir ini. Seharusnya aku tidak begitu, kan? Tapi saat itu aku memang sangat gugup dan tidak begitu memikirkan diri sendiri hingga tubuhku menunjukkan tanda-tanda kelelahan di mana-mana. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan kembali menulis seperti biasa.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk melakukan degoogle pelan-pelan. Mungkin akan membutuhkan waktu lama, tapi yang penting aku sudah melakukan hal-hal yang bersifat dasar. Kalian bisa menemukan soal ini lebih lanjut dari subreddit bernama r/degoogle, r/privacy, r/privatelife, dan r/privacyguides (edit: link tersebut menggunakan versi Reddit yang lebih ramah privasi). Yang penting sekarang aku sudah bisa tidur dengan tenang tanpa khawatir ada yang melihat aku pergi ke mana saja seharian.

Listed, Blog Alternatif Blogger

Setelah bolak-balik dari berbagai situs reddit demi menemukan blog yang setara dengan Blogger tetapi lebih ramah privasi, aku akhirnya menemukan Listed.


Listed adalah layanan blog gratis yang disediakan bagi para pengguna aplikasi catatan StandardNotes. StandardNotes adalah aplikasi catatan yang bersifat Open Source dan memiliki layanan gratis dan premium. Catatan di StandardNotes dijamin aman karena mereka menggunakan sistem enskripsi end-to-end. Namun pengguna juga mesti hati-hati untuk menyimpan detail login, karena jika lupa kata sandi maka akun di StandardNotes tidak bisa dikembalikan. Pengguna bisa langsung merilis catatan mereka ke blog Listed hanya dengan sekali klik. Jadi, tidak perlu repot menyalin lalu menempelkan ke blog jika kita menulis dari StandardNotes.

StandardNotes bisa diakses dari web dan aplikasi dekstop serta Android dan iOS. Aku menggunakan aplikasi web dan dekstop, juga Android. Kalau aku bandingkan dengan OneNote untuk Windows 10, StandardNotes jauh lebih cepat dan tidak berat untuk digunakan. Kalau menggunakan versi StandardNotes yang gratis, memang editor yang ada tidak selengkap OneNote. Tapi tenang, kita dapat mengunduh ekstensi yang dapat meningkatkan pengalaman menulis di StandardNotes. Sejauh ini aku suka ekstensi Rich Markdown Editor (RME). Aku mengunduhnya dari repositori Jon Hadfield. Di link itu pun tersedia tema yang dapat kita pasang. Aku paling suka dengan tema 'Standard Notes Writer' dan 'Gruvbox Dark Theme'.

Aku tahu, tema untuk StandardNotes sangat bagus dan menarik. Akan tetapi, tema untuk StandardNotes tidak bisa digunakan untuk Listed. Aku sendiri menggunakan tema Listed yang dibuat oleh Tim Apple. Aku tinggal menyalin kode CSS yang Tim tulis ke catatanku, lalu klik Publish to Blog. Kita bisa mengatur CSS sendiri seperti ini maupun sesuai dengan apa yang kita suka.

Listed sepenuhnya gratis untuk seluruh pengguna StandardNotes.Kamu tidak perlu langganan dan membayar untuk menulis di Listed. Namun, jika ingin menggunakan domain sendiri, kita harus langganan StandardNotes dahulu.

Di laman beranda Listed, kita bisa melihat blog pengguna lain yang baru merilis tulisan. Karena Open Source, tidak ada iklan di sini. Kita juga tidak perlu khawatir soal SEO atau mengatur tata letak seperti di Blogger. Cukup dengan memilih antara versi 'Default' atau 'Condensed' untuk 'Cover Style'; dan 'Default' atau 'Cards' untuk 'Blog Layout Style', lalu selesai. Jika ingin pengaturan lebih lanjut, kita dapat mengatur CSS sendiri langsung dari catatan di StandardNotes. Tutorial untuk membuat akun Listed dan menggunakannya ada di laman resmi StandardNotes. Situs mereka masih berbahasa Inggris, kamu bisa pakai mesin penerjemah jika kebingungan atau tanya aku di twitter.

Ada fitur asli yang tidak ada di Blogger kecuali jika kita utak-atik dulu, yaitu ‘Subscribe’. Pengunjung Listed kamu dapat berlangganan konten blog kamu. Dari StandardNotes, ada pilihan 'Email Subscribers' alias Kirim Email ke para Pelanggan. Jadi tidak semua postingan di Listed akan terkirim ke email pelanggan tanpa persetujuanmu.

Listed juga memiliki tab 'Guestbook' dan 'Thank'. 'Guestbook' berguna bagi pembaca blog Listed yang ingin meninggalkan jejak mereka di situ. Sedangkan fitur 'Thank' berguna untuk menyematkan situs pembayaran seperti Paypal, Patreon, dan Saweria agar jika ada pembaca yang berkenan, mereka bisa mendukung penulis dalam bentuk uang.

Listed juga tidak butuh akun Gmail. Bagi kalian yang sedang mengikuti gerakan 'deGoogle', tentu hal ini akan sangat menguntungkan sekaligus membuat tenang. Aku sendiri menggunakan email alias, yaitu email yang dibuat terpisah agar menutupi email yang asli, tetapi penerima pesan tetap email yang asli. Hal ini penting untuk menjaga privasi di internet yang semakin hari semakin menjadi sesuatu yang mahal.

Listed memiliki fitur arsip seperti di Tumblr yang bisa melihat seluruh kiriman kita yang memperlihatkan judul dan paragraf pertama. Sekilas memang terlihat seperti laman Blogger yang biasanya, hanya saja ini berisi seluruh tulisan kita. Kalian bisa akses melalui link listed.to/@(username)/all. Baik bagi yang menggunakan layout 'Condensed' dan 'Cards', fitur ini memudahkan pembaca untuk menemukan tulisan yang dicari.

Kekurangan Listed dibanding Blogger adalah untuk saat ini dia belum ada aplikasi untuk Android dan iOS, dan kita juga tidak bisa merilis catatan menjadi konten blog dari ponsel. Jadi harus dari dekstop dan situs web. Kalau dari situs web ponsel aku sendiri belum mencoba. Buatku pribadi ini bukan masalah besar karena aku lebih suka menulis konten blog di laptop. Jauh lebih mudah untuk mengetik dan menyunting dari layar yang lebar.

Listed tidak ada fitur label seperti di Blogger. Kalau dipikir-pikir, aku jarang sih menggunakan fitur ini ketika mengakses blog pribadi. Sebagai ganti label, kalian bisa membuat halaman terpisah yang akan berdampingan dengan link di pojok kanan atas.

Kamu tidak akan menemukan opsi menambah gambar secara otomatis di Listed. Tapi tenang, cukup salin kode ini saja ![Moon Sehoon](URL) dan ganti tulisan Moon Sehoon serta URL dengan deskripsi dan link gambar yang kamu mau tampilkan. Fitur menambah gambar di Listed sampai saat ini masih dalam tahap pengembangan. Kalian juga bisa memasukkan link dengan markdown seperti [ini deskripsi](inilinkdotcom).

Listed juga sepertinya tidak muncul di hasil pencarian internet, atau mungkin membutuhkan waktu yang lama agar masuk indeks situs pencarian. Aku kurang tahu akan hal ini. Yang kutahu pasti, ketika aku mencari nama Listed-ku, aku belum dapat menemukannya di mesin pencarian. Mungkin karena ini mereka menyediakan fitur ‘Subscribe’. Dengar-dengar, sih, mendapatkan banyak pelanggan yang subscribe blog kita jauh lebih baik daripada mengharapkan pengunjung random dari situs pencarian.

Sejauh ini, aku sangat puas dengan Listed. Aku tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana aku harus meletakkan label di sini dan laman kontak di sana. Mengatur CSS pun sangat mudah, tidak seperti di Blogger yang masih cukup ribet karena banyak peraturan yang mereka sematkan.

Listed sepertinya ditujukan untuk penggunaan pribadi, tetapi aku juga melihat cukup banyak perusahaan yang menggunakan Listed untuk blog mereka. Tata letak Listed yang rapi juga membuat kita fokus dengan tulisan sekaligus memberi semangat untuk menulis, karena mereka memperlihatkan orang-orang yang juga suka menulis di laman beranda.

Listed punya tantangan #100dayswriting juga, lho. Kalian bebas ikut tantangan itu kapan saja, bisa cek 100 Day Writing Challenge untuk lebih jelasnya. Jadi, gimana, kalian sudah tertarik belum buat pakai Listed?

Masih Mencari Alternatif Blog selain Blogger

(Artikel ini ditulis pada 15/01/2022)

Tanggal 12 kemarin, aku sangat sibuk mencari tahu tentang masalah privasi. Di reddit, banyak sekali postingan yang membuatmu merasa tertekan ketika mengetahui kebenarannya. Banyak orang menyarankan untuk tidak menggunakan Google karena mereka terlalu memonopoli pasar dan memegang semua data para pelanggan. Tanggal 14 kemarin, GDPR, sebuah badan yang mengurusi soal privasi dari Eropa, melarang penggunaan Google Analytics. Situs web yang nekat memakai alat yang dianggap membahayakan pengguna itu akan diblokir dan tidak bisa diakses dari Eropa.

Masalah selalu datang salah satunya ketika kita tahu apa yang kita lakukan ternyata salah. Dan kita masih melakukannya. Aku juga masih menggunakan Google. Mulai dari Android, email, Youtube, semuanya dari Google. Termasuk blog untuk ikut proyek menulis di bulan Februari, aku memakai blogger. Bahkan aku sempat memasang Google Analytics belum lama ini. Langsung aku hapus, sih, tapi kan belum kelar masalahnya sampai situ.

Aku sedang mencari layanan blog yang penyedianya berbaik hati menerapkan bebas biaya tapi tidak membahayakan seperti Google. Ternyata, sulit sekali. Jawaban termudah adalah hosting situs web kita sendiri. Namun aku masih awam dan mungkin butuh waktu lebih lama dari proyek menulis ini untuk mempelajari semua. Jadi secara tidak langsung, aku juga mencari yang mudah untuk diatur dan dapat segera aku gunakan.

Pilihan yang bagus biasanya berbayar. Aku sangat memahami hal ini. Karena menyediakan jasa menampung situs web dengan segala isi-isinya butuh biaya perawatan yang tidak sedikit. Penyedia jasa yang menghargai privasi pelanggan telah berkomitmen untuk tidak menjual data pelanggan ke siapapun. Mereka mendapatkan uang dari komitmen pelanggan untuk membayar jasa mereka, bukan dari iklan.

Memang kenapa kalau dapat biaya dari iklan? Setiap perusahaan iklan pasti harus menemukan target yang sesuai agar dapat menemukan calon pembeli yang banyak sekali tangkap. Bagaimana perusahaan tersebut tahu target yang di sini sesuai dan di sana tidak sesuai, tentu hal itu diketahui dengan pengumpulan data para pengguna internet. Jam berapa kita bangun, ke mana kita siang ini, pesan makanan apa dari Gofood, hingga lagi mupeng sama baju yang mana di Shopee, semua itu bisa Google dapatkan dari kita. Google punya banyak layanan yang selalu kita pakai setiap hari, bukan? Semua aplikasi mereka dapat melacak apa saja yang kita lakukan, lalu mereka akan mengolah data tersebut kepada penyedia iklan. Sebenarnya ada banyak hal lagi yang jauh lebih mengerikan, tetapi aku akan berhenti di sini karena aku masih belum menemukan layanan blog yang aku mau.

Aku sudah melihat banyak blog dan macam-macam pendapat pengguna mereka dari reddit. Kesimpulan dari hasil pencarianku adalah, tidak ada layanan yang sempurna. Tidak bisa juga kita sekonyong-konyong percaya bahwa perusahaan ini dan itu tidak akan menjual data kita. Peraturan nomor satu adalah, jangan sekali-kali mengunggah data pribadi kita ke internet, di manapun yang menurut kita aman jika kita tidak mau data itu menjadi data yang beresiko bocor. Aku sudah berkomitmen untuk menulis apa yang aku rasa masih merupakan hal umum dan tidak begitu personal. Namun demikian, mencari yang cocok dan terbaik memang butuh waktu dan energi yang tidak sedikit. Jika buru-buru dalam hal ini, artinya aku adalah orang yang sembrono. Kemarin sudah kejadian, sih. Aku malah memasang Google Analytics ke blogku... Ya Allah, capek banget sama kebodohan diri sendiri.

Untuk saat ini akan aku sudahi dulu. Mohon doanya agar aku dapat cepat mendapatkan apa yang kubutuhkan, teman-teman. Semoga kalian sehat selalu, ya. Sampai jumpa!

Pertarungan antar Ayam dan Lele

(Artikel ini ditulis pada 15/02/2022)

Ayam punya daging yang lembut jika dibandingkan dengan jenis daging hewan ternak lain. Mungkin karena ayam makan bebijian, semua otot mereka menjadi tidak begitu berserat dan mudah dicerna gigi orang tua. Jika ayam dibumbui dengan sepenuh hati, rasanya ngga kalah kok sama daging sapi dan kambing. Ngga kalah enak, maksudku. Selera orang Indonesia setahuku adalah ayam goreng, juga ayam bakar. Ayam bakar biasanya terasa manis dan berbumbu pekat. Bau daun jeruk membuat hidung tidak tahan sebelum meneriaki otak untuk segera menyuruh si empu badan makan.

Lele adalah salah satu jenis ikan yang mirip naga. Mirip naga? Iya, soalnya mereka punya kumis panjang, hahaha. Lele punya daging yang halus juga. Duri tipis dan lembut di sirip ikan lele biasanya dapat dimakan tanpa cemas kalau lele itu digoreng hingga kering. Bumbu lele biasanya selalu gurih, mungkin akibat tekstur ketika lele digoreng terasa sangat enak jika ada sensasi umaminya. Bagian sirip yang renyah tidak bisa diganggu gugat.

Kedua jenis makanan sumber protein di atas sangat enak jika dimakan dengan nasi hangat dan sambal (jika sedang tidak sakit perut). Ayam bakar dan lele goreng, adalah kedua makanan yang selalu laris diburu orang-orang untuk makan malam. Abangnya hampir selalu memunggungi para pembeli karena sibuk berdiri mengurus ayam dan lele. Kedua makanan enak ini dibandrol dengan harga yang tidak jauh berbeda. Dua-duanya sama-sama punya peminat yang tinggi.

Perbedaan mereka terletak pada tempat hidup. Ayam adalah hewan darat, sedangkan lele hewan air. Keduanya bisa makan apa saja, yang pasti bukan makan rumput seperti kambing dan sapi. Aku kurang tahu kalau ayam dan lele ternak suka dikasih makan apa, tetapi jika orang iseng pelihara mereka, nasi sisa semalam pun mereka mau.

Jika benar ada pertarungan antar ayam dan lele, tentu saja itu adalah omong kosong. Jika mereka bertengkar di darat, ayam sudah pasti menang. Jika mereka beradu di air, lele lah yang berkuasa. Jika mereka berantem di udara, artinya mereka jatuh dari pesawat dan tidak akan ada yang menang. Maka dari itu mereka bertengkar dalam soal rasa.

Lalu, jika aku harus memilih ayam dan lele, apa yang akan aku pilih? Sederhana saja, aku akan pilih lele karena ada sensasi krenyes-krenyesnya. Kalau runtukannya dimakan dengan nasi panas, waduh, serasa lupa sama dunia buat tiga detik. Memang makanan dan nasi yang panas adalah kombo sempurna. Semoga tidak ada yang berniat untuk debat denganku.

Kalau kamu bagaimana? Ayam bakar manis atau lele goreng gurih? Aku tahu memang sangat sulit untuk memilih, makanya beli saja dua-duanya. Hehehe. Semoga kalian selalu bisa makan makanan yang bergizi, ya. Sampai jumpa!

Memulai Blog Baru

(Artikel ini ditulis pada 14/02/2022)

Mau nangis rasanya dari tadi, hiks.

"Sabar, sabar."

Sebenarnya ada alasan khusus kenapa aku memutuskan untuk pindah platform blog. Aku akan menjelaskannya lain kali. Pokoknya, aku menemukan banyak hal-hal yang membuat kepalaku mau pecah rasa-rasanya.

Pecah kenapa? Bukan karena stress, jika ada yang mencoba untuk menebak-nebak, tetapi lebih ke dorongan untuk segera melakukan sesuatu yang tampaknya harus segera dilakukan. Kalau ngga dilakukan sekarang, mungkin ngga ada kesempatan lagi di masa depan. Yang bikin tertekan juga secara mengejutkan bukan karena tutorial untuk membuat blog baru ini sulit, melainkan karena aku takut dengan blog yang menggunakan nama sendiri.

Ya, aku takut kalau ada yang mengenalku, atau punya niat jahat kepadaku, atau menemukan fakta kalau aku itu sungguhan aneh bukan dibuat-buat. Ya Allah. Karena aku sempat panik nama di situs ini secara otomatis akan menjadi domain blog, aku cari-cari lah di reddit dengan kata kunci nama palsu di (nama situs) dalam bahasa Inggris. Banyak komentar dengan arus yang berlawanan yang membuatku berpikir lama.

Pertama, mereka yang tidak mempermasalahkan penggunaan nama palsu di situs ini. Karena itu lah sisi keren dunia developer (pengembang). Tidak seperti pekerjaan lain yang mewajibkan para pekerja untuk memakai jas dan setelan rapi, di sini kamu pakai kaus oblong pun tidak ada yang akan memerhatikan. Mereka bilang sangat biasa menemukan nama palsu di situs ini, dan tidak pernah ada masalah dengan itu.

Kedua, mereka yang menyarankan lebih baik memakai nama asli. Maka tidak akan sulit untuk mempromosikan diri di dunia nyata. Nama asli akan sangat menguntungkan juga jika kita pernah mengikuti proyek Open Source milik perusahaan misal, akan terlihat nama asli kita yang berkontribusi di dalam proyek itu.

Ketiga, ada yang lebih mengkhawatirkan soal doxxing. Dari pengamatanku, sepertinya arti doksing ini adalah dapat mencari tahu data pribadi kita hanya dengan secuil informasi yang kita bagikan di internet. Lalu mungkin saja nanti akan ada hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti penjualan data, penggunaan data yang tidak bertanggungjawab (misal menipu atas identitas orang tersebut), atau bahkan metode di dunia gaib bernama santet dan pelet yang semakin hari hanya butuh beberapa informasi saja. Mereka yang khawatir ini lebih karena nama asli mereka termasuk jarang dan dapat dicari dengan mudah jika bocor di suatu tempat di internet. (ps. Aku ngga bisa ngomong lebih lanjut soal doxxing karena belum tidur semalaman, kalau ada kesalahan maka akan aku edit nanti setelah bangun.)

Tiga alasan itu yang membuatku berpikir keras. Dari dulu aku tidak pernah menggunakan nama asli karena takut dengan alasan ketiga. Tapi aku sempat membaca satu komentar yang menyatakan kurang lebih, "hal itu sebenarnya tidak terlalu penting kok untuk dipusingkan. Masih ada hal lain yang lebih penting." Hati kecilku berkata, iya juga. Namun otak besarku tidak setuju. Aku merasa sangat takut dan bolak-balik mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan dari penggunaan nama asli di situs ini...

Pada akhirnya, dalam keadaan super lelah dan mengantuk, aku memutuskan untuk menghadapi ketakutan ini. Mohon doa dan restunya, kawan-kawan, supaya Allah yang Maha Kuasa melindungiku dari hal-hal yang tidak aku inginkan. Mungkin terkesan lebay, ya... Maaf ya..., tapi aku ngga tahu lagi harus jelasin seperti apa rasa ketakutan yang aku alami sekarang. Aku menduga mungkin aku menderita beberapa penyakit mental, karena rasa ketakutanku sepertinya tidak normal. Setujukah kalian? Aku juga sempat melihat komentar yang meminta salah satu OP alias Original Poster alias si pembuat postingan di reddit--yang berpikiran seperti aku untuk mengambil tes analisis kecemasan. Walaupun aku hanya melihat sekilas, masih saja teringat tanpa diundang. Akan tetapi demi kebaikan bersama aku selalu menyuruh pikiran itu berhenti berisik karena bagaimanapun diagnosa sendiri modal duga-duga itu bukan sesuatu yang baik.

Tarik napas dahulu... Fiuhhh. Hari ini tanggal 14 Februari adalah Hari Cinta-cintaan. Kamu ngga perlu sedih kalau belum punya ayang. Ada temannya, kok, di sini. Hehehe. Tulisan ini untuk tanggal 13 sebenarnya, tapi maaf telat lagi, hiks.

Ya sudah, semoga tidak error lagi blog ini seperti tadi. Aku pamit dulu, ya. Sampai jumpa!

Edit 18/02/2022

  1. Berdasarkan artikel dari Avast [https://www.avast.com/c-what-is-doxxing], doxxing adalah proses pengumpulan dokumen atau informasi pribadi seseorang, kemudian menyebarkannya ke internet tanpa persetujuan pribadi tersebut. Jenis informasi beragam, dapat berupa nama asli, foto, alamat, dan lain sebagainya. Dalam banyak hal, tujuan asli doxxing adalah untuk melukai seseorang. Di Indonesia sendiri aku sering mendengar praktik ini digunakan untuk membuat malu orang lain, menjelek-jelekkan, bahkan hingga untuk disalahgunakan demi tindak kriminal seperti penipuan dan pinjaman online. Dengar-dengar juga, di Jawa dan Korea pun, hanya modal nama dan tanggal lahir lengkap sudah cukup untuk membuat seseorang jadi target tindak kriminal jalur gaib seperti santet.
  2. Karena aku masih ketakutan setelah beberapa waktu menulis tulisan ini, aku memutuskan untuk pindah platform lagi dan kembali menggunakan alias.